Lebih dari satu dekade menjadi jurnalis ekonomi dan gaya hidup, khususnya pasar modal, komoditi dan mata uang. Menyukai travelling disaat liburan atau mengatur koleksi filateli.

ESANDAR, Jakarta – Pada perdagangan awal pekan ini, pasar tidak banyak bergemuruh. Kondisi pasar yang terlalu nyaman cenderung untuk menandai titik kritis dan data harian ekonomi penting hari ini yang bisa menjadi ujian sesungguhnya dari sentimen investor.

Pelaku pasar masih saja mencoba mencerna dampak jatuhnya Data CPI hari Jumat minggu lalu sambil mengawasi risiko geopolitik di tengah banjirnya berita utama soal The Fed.

Tren kenaikan USD meluas lagi dimana pasar dengan seksama memperhatikan peningkatan masalah geopolitik, bukan hanya di Semenanjung Korea, namun juga dari Timur Tengah. Kabar terkini menunjukkan ada adu senjata antara pasukan Irak dan Peshmerga. Belum lagi masalah memburuknya hubungan diplomatik Turki dan AS. Timur Tengah seakan-akan siap meledak kapan saja.

Ekonom Stanford University John Taylor, kandidat ketua Federal Reserve, memberikan kesan yang baik pada Presiden Donald Trump setelah wawancara selama satu jam di Gedung Putih minggu lalu. Sebaliknya pamor mantan gubernur bank sentral Kevin Warsh memudar di Gedung Putih. Sebagaimana penugasan lainnya, Trump selalu cenderung mempekerjakan orang-orang yang memiliki hubungan baik dengannya. Janet Yellen sendiri dikabarkan akan bertemu dengan presiden minggu ini, dan dia diharapkan menjadi calon utama terakhir yang diwawancarai Presiden Trump.

Pada perdagangan Euro, EURUSD, para pialang terus menelisik koreksi yang menyeret Euro akibat pernyataan Presiden ECB Mario Draghi yang bernada dovish. Euro sedikit terangkat ditengah kondisi politik Austria paska pemilu.

Berita utama Brexit terus mendorong Poundsterling namun dengan laporan CPI Inggris untuk bulan September; dan kesaksian tiga anggota BoE kunci (Carney dan untuk pertama kalinya, anggota Ramsden dan Tenreyro) akhirnya menekan Poundsterling. Para pedagang bertekuk lutut dalam perjalanan yang bergelombang. Inflasi Inggris hanya 3%, dan jika inflasi pada September ini masih 3%, akan memberikan tekanan besar pada BoE untuk memulai siklus pengetatan dan harus bermain positif untuk Pound.

Kinerja terburuk terjadi di perdagangan AUDUSD. Ditengah kenaikan harga komoditi Logam paska ramalan pertumbuhan yang optimis dari KTT Partai Komunis Cina, pun juga data ekonomi Cina kemarin dimana memberikan dukungan kenaikan risiko secara regional. Tak ayal aksi jual AUD semalam agak mengejutkan.

Sementara itu, pada perdagangan USDJPY, gelombang penjualan Dolar AS sebagai dampak lanjutan data CPI Jumat lalu, gagal meraih banyak daya tarik untuk menyeret Dolar AS hingga dibawah 111,75. Dolar AS kemudian melambung kembali ke 112,20 Yen. Sentiment positif Dolar diperkuat dengan naiknya posisi Taylor sebagai calon kuat pengganti Yellen sebagai Gubernur Bank Sentral AS. Meski demikian, pasar juga mengantisipasi hasil pemilihan di Jepang pada Minggu yang akan dating. Kemenangan Shinzo Abe dalam pemilihan kali ini pada gilirannya akan memperlemah Yen.

Jajak pendapat terbaru menunjukkan bahwa partai penguasa Abe terlihat masih bisa mendominasi hasil pemilu. Kebijakan Perdana Menteri saat ini adalah berencana untuk menyalurkan sekitar setengah dari pendapatan kenaikan pajak penjualan yang direncanakan akan dibelanjakan ke sektor pendidikan dan sosial dari pendanaan defisit anggaran, berbeda dengan Partai Harapan yang lebih suka menolak kenaikan pajak dan tingkat bunga bank sentral. (Lukman Hqeem)