Harga Minyak mentah melonjak oleh kekhawatiran investor atas sanksi AS pada Iran (Lukman Hqeem)

Esandar Arthamas Berjangka merupakan pialang resmi yang terdaftar di BAPPEBTI. Anggota dari Bursa Berjangka Jakarta dan Kliring Berjangka Indonesia.

ESANDAR, Jakarta – Harga minyak melonjak pada perdagangan Senin, karena investor mengkhawatirkan dampak sanksi AS terhadap Iran dan pengetatan pasokan global. Donald Trump mengecam OPEC, menuduh sengaja menggelembungkan harga minyak. Ia menyebutnya sebagai “monopoli” dan mendesaknya untuk menurunkan harga.


Menurut seorang pejabat Iran, ada langkah sederhana untuk membuat harga minyak turun kembali. Hossein Kazempour, perwakilan Iran di OPEC dalam sebuah wawancara di Aljazair pada hari Minggu mengatakan bahwa semua kembali ke Donald Trump. Menurutnya pemerintahan Donald Trump telah mencampur adukkan masalah politik ke dalam OPEC. Trump bahkan dituding menyebarkan politik ke dalam OPEC. Hossein Kazempour menyatakan dengan keras agar Trump diam, jangan mencuit, dan kemudian harga minyak akan membaik.
Kazempour beralasan bahwa apa yang mereka lakukan (Gedung Putih, red) adalah (mengarah ke) harga lebih tinggi karena fundamental tidak menjamin tingkat harga ini, katanya. Ditegaskan olehnya jika mereka diam, aku akan senang tentang itu, ujranya.


Sementara itu, harga minyak CLZ8, + 0,39% terus menerus naik stabil, naik hampir 2% pada hari Senin menjadi $ 72,14 per barel. Sementara itu, minyak mentah Brent berjangka, patokan untuk harga minyak di luar AS, meningkat 1,93% menjadi $ 79,75.
Harga minyak telah meningkat dalam beberapa bulan terakhir karena kekhawatiran pengetatan pasokan karena sanksi AS terhadap Teheran, yang diperkirakan akan mulai berlaku pada 4 November dan telah menyebabkan ekspor minyak mentah Iran jatuh.


Secara terpisah, Arab Saudi juga menolak himbauan Presiden AS Donald Trump untuk menurunkan harga. “Saya tidak mempengaruhi harga,” kata Menteri Energi Saudi Khalid al-Falih kepada wartawan pada pertemuan OPEC dan non-OPEC di Aljazair. Kelompok produsen minyak sedang berdiskusi tentang peningkatan output untuk menandingi penurunan pasokan Iran tetapi tidak membuat rekomendasi resmi untuk setiap dorongan pasokan tambahan.


Sementara itu dilaporkan bahwa produksi minyak serpih Amerika Serikat diperkirakan akan mencapai puncaknya pada akhir tahun 2020an. Perkiraan ini tentu memicu permintaan baru minyak mentah OPEC yang dikabarkan mengalami penurunan, bahkan stagnan dalam pernyataan OPEC di hari Minggu.


Dalam perkiraan terbaru tentang lanskap minyak global, OPEC mengatakan bahwa pertumbuhan minyak serpih akan melambat, setidaknya mulai 2023. Meskipun produksi minyak serpih akan memuncak pada 14,3 juta barel per hari diantara tahun 2027 dan 2028. Selanjutnya, produksi akan jatuh ke rata-rata 12,1 juta barel per hari pada 2040, menurut OPEC.


Penggunaan rekah hidrolik di AS untuk mengebor minyak dalam batuan serpih – dikenal sebagai fracking – telah secara dramatis mengubah wajah industri minyak global selama sepuluh tahun terakhir, menyaingi pangsa pasar OPEC. Minyak serpih, sebagian besar berada di belakang minyak Amerika yang membanjiri pasar lebih dari empat tahun lalu, dimana angkanya mencapai naik lebih dari $ 100 per barel pada akhir 2014.


Pada tahun 2018, A.S. produksi minyak serpih tumbuh lebih cepat daripada yang terjadi selama tahun 2011 hingga 2014, sebagaimana dikatakan Badan Energi Internasional (IEA) diawal tahun ini. IEA telah meramalkan bahwa produksi minyak serpih akan stabil pada akhir 2020-an, sementara total produksi dari negara-negara non-OPEC terus menurun. (Lukman Hqeem)