Harga emas menguat kembali

Lebih dari satu dekade menjadi jurnalis ekonomi dan gaya hidup, khususnya pasar modal, komoditi dan mata uang. Menyukai travelling disaat liburan atau mengatur koleksi filateli.

ESANDARm Jakarta – Setelah dua sesi sebelumnya naik, harga emas pada perdagangan hari Selasa (17/04) berakhir lebih rendah. Menguatnya Dolar AS dan naiknya bursa saham AS menjadi sentiment utama koreksi saat ini. Meskipun jatuhnya harga emas tertahan dengan sentiment krisis geopolitik di Timur Tengah.

Harga emas untuk kontrak pengiriman bulan Juni turun kembali sebesar $ 1,20, atau hanya di bawah 0,1%, untuk menetap di $ 1,349.50 per troy ons. Menggerus setengah kenaikan sebelumnya, dari kenaikan 0,2% hari Senin. Harga Emas mencatat kenaikan sekitar 0,8% minggu lalu. Pada perdagangan Rabu minggi lalu bahkan mencatat posisi tertinggi akhir Januari.

Menguatnya Dolar AS, dimana indeks Dolar AS naik 0,1% pada 89,54 – dan naiknya ekuitas AS membuat emas kehilangan daya pikatnya sebagai aset safe haven. Investor cukup percaya diri dan melakukan risk appetite dengan memburu saham-saham unggulan, dimusim laporan keuangan yang menjanjikan kali ini. Disisi lain, situasi Suriah dan Rusia menjadi latar belakang potensi kenaikan harga emas lebih lanjut. Penurunan kali ini memang dangkal, harga emas terkonsolidasi di level support $1340.

Bursa saham menguat sejak awal minggu ini, dipicu harapan bahwa AS tidak akan terseret ke dalam konflik yang lebih dalam dengan sekutu Suriah,  Rusia dan Iran. Investor juga fokus pada beberapa laporan pendapatan yang optimis.

Di tempat lain, pejabat AS dan Inggris memperingatkan bahwa Rusia telah meningkatkan serangan cyber pada perusahaan Amerika dan Inggris serta lembaga pemerintah. Hubungan antara ketiga negara telah tegang sejak AS, Prancis dan Inggris meluncurkan serangan rudal terhadap fasilitas senjata kimia dari pemerintah Suriah yang didukung Rusia.

Kurangnya eskalasi ketegangan perdagangan antara Cina dan AS juga telah membuat investor menjadi berani. Keyakinan itu mungkin akan mengejutkan berita bahwa AS sedang mencari cara untuk membalas terhadap Beijing karena tindakannya membatasi akses untuk perusahaan teknologi Amerika ke pasar Cina.

Di antara pejabat Fed yang berbicara Selasa, Gubernur Bank Sentral AS wilayah San Francisco John Williams, mengatakan dukungannya untuk tiga atau empat kali kenaikan suku bunga di tahun ini. Ditambahkan olehnya bahwa dia lebih khawatir tentang ketidakpastian yang terus berlanjut dari perang dagang AS dengan mitra dagangnya.

Secara terpisah, Deputi Gubernur Bank Sentral AS untuk Pengawasan Keuangan Randal Quarles mengatakan bahwa tidak diragukan lagi aturan Volcker perlu dijalankan. Ini merupakan tindakan kontroversial untuk melarang bank melakukan perdagangan untuk akun mereka sendiri. Hal ini dianggap sebagai sesuatu yang bisa membahayakan pasar modal. Sementara itu, Gubernur Bank Sentral AS wilayah Chicago Charles Evans, mengatakan bahwa dia tidak melihat risiko besar dari pelarian inflasi.

Di antara data ekonomi yang dirilis kemarin, angka perumahan AS mulai berlari pada kecepatan tahunan yang disesuaikan secara musiman 1,32 juta pada bulan Maret, naik 2% dibandingkan dengan Februari. Sementara tingkat produksi industri pada Maret naik 0,5% dan utilisasi kapasitas naik hingga 78% – tingkat tertinggi dalam tiga tahun.

Dipihak lain, Dana Moneter Internasional menaikkan estimasi pertumbuhan AS untuk 2018 menjadi 2,9% dan perkiraan 2019 menjadi 2,7%. (Lukman Hqeem)