Dolar AS masih lemah atas sejumlah mata uang besar lainnya.

Lebih dari satu dekade menjadi jurnalis ekonomi dan gaya hidup, khususnya pasar modal, komoditi dan mata uang. Menyukai travelling disaat liburan atau mengatur koleksi filateli.

ESANDAR, Jakarta – Pada perdagangan hari ini dolar AS kemungkinan masih berusaha naik. Setelah tertakan hampir 3 minggu dengan berharap banyak bahwa ada sisi beli kembali. Membaiknya fundamental ekonomi AS serta dukungan dari paparan The Fed dalam rapat suku bunga pertengahan bulan lalu, menjadi harapan penguatan ini.

Dalam perdagangan Selasa (02/01/2018) Dolar AS mengalami tekanan dari mata uang utama dunia lainnya. Pada perdagangan EURUSD ditutup menguat di level 1,12058, GBPUSD ditutup menguat di level 1,3594, AUDUSD ditutup menguat di level 0,7829 dan USDJPY ditutup melemah di level 112,29.

Aksi membeli Yen masih ada rasanya hingga perdagangan awal tahun kemarin. Kondisi politik Iran yang tidak kondusif disertai pula kekhawatiran jatuhnya sanksi baru ke Iran oleh AS mempertebal keyakinan investor melakukan aksi safe haven.

Sebelumnya pasar gerah dengan aksi AS tersebut dengan situasi PBB dan AS yang memberikan sanksi baru kepada Korea Utara di bulan lalu sehingga merupakan pemicu adanya rasa gusar yang memuncak dan bisa menimbulkan situasi yang tidak nyaman bagi investor dalam berinvestasi dan membuat mereka mengambil inisiatif untuk melanjutkan sisi pengamanan portofolionya yang kemungkinan besar masih bisa muncul hingga perdagangan akhir pekan ini sambil menantikan data tenaga kerja AS.

Situasi pelemahan dolar AS sendiri sudah menimpa sejak lolosnya UU pajak di bulan lalu karena paket reformasi fiskal ini menurut teori ekonomi memang tidak biasa dilakukan ketika kondisi kinerja ekonominya sedang bagus sehingga hal ini menimbulkan pro dan kontra, dimana pemotongan pajak ini membuat defisit anggaran AS membengkak $1,5 triliun sehingga akan membuat kinerja dolar AS tidak membaik.

Padahal keringanan pajak ini bisa mendorong laju pertumbuhan ekonomi AS dimana belanja investasi dan belanja konsumen dalam negeri bisa menguat. Maka bank sentral AS justru mengalami tekanan untuk terus meningkatkan suku bunganya. Diperkirakan bahwa reformasi pajak ini bisa membuat The Fed di 2018 menaikkan suku bunganya 4 kali. Mendengar kenaikan suku bunga justru akan mendorong investor memborong dolar AS. Namun sayangnya investor masih belum memandang hal ini sehingga dolar AS susah untuk bangkit.

Di sisi lain, beberapa bank sentral utama dunia seperti ECB, BoJ dan BoE juga mempunyai proyeksi ekonomi dari pasar bahwa akan mengetatkan kebijakan moneternya. Hal ini terkait dengan membaiknya pula kinerja ekonomi mereka dan demi menghindarkan diri dari panasnya ekonomi, maka bank sentral harus menaikkan suku bunganya juga.

Inilah yang membuat dolar AS sendiri merasa kesulitan untuk melawan mata uang utama dunia lainnya serta emas karena pihak di luar AS sedang membaik ekonominya, disertai pula kebijakan politik Trump yang banyak tidak populer di mata investornya, seperti contohnya konflik dengan Korea Utara dan pengukuhan Yerusalem sebagai ibukota Israel yang telah ditolak PBB serta demonstrasi di Iran.

Harapan penguatan dolar AS ada pada Fed minutes dini hari nanti, apakah ada keyakinan kenaikan suku bunga atau kuatir terhadap reformasi pajak. Bila ada keyakinan kuat pada suku bunga The Fed yang akan naik maka dolar AS masih bisa positif, namun bila lebih condong dengan masalah pajak maka kesempatan penguatan mata uang AS masih tertutup.

Secara teknikal, setelah menguat dan berakhiri di 0.7828, pasangan AUDUSD menanjak ke 0.7843, sebuah indikasi rebound meskipun masih lemah. Level terendah sesi kemarin di 0.7814 menjadi support pertama yang dapat memicu aksi jual lanjutan dengan target berikutnya di 0.7777/60. Namun untuk sementara waktu dominasi para bulls tidak dapat diabaikan. Lonjakan harga di atas 0.7843 dapat mematahkan indikasi koreksi yang mulai tampak pada grafik harian, target bullish berikutnya adalah 0.7884.

Pada perdagangan EURUSD, Euro naik hingga dibeli pada $1.2081 per euro, meski berakhir di $1.2053. Sentimen bullish yang kuat masih berpotensi berlanjut dengan dukungan dari suport kuat di $1.2017 –  dan di 1.2022. Level tertinggi kemarin sementara waktu berperan sebagai resistance pertama, jika ditembus maka EURUSD berpeluang menanjak ke target berikutnya di 1.2092 dan 1.2122.

Sementara perdagangan GBPUSD telah menyentuh level resistensi dikisaran $1.3600. Resistance tersebut juga sebuah zona ekstrem yang tidak mudah untuk ditembus. Namun demikian dengan kuatnya sentimen negatif terhadap Dolar AS hingga saat ini, GBPUSD berpeluang untuk melanjutkan pergerakan naiknya. Hingga Rabu pagi posisi GBPUSD tetap berada di atas support-support 1.3580 dan 1.3532. Jika 1.3600 ditembus maka GBPUSD dapat menanjak ke 1.3619 dan 1.3658.

Yen sendiri masih menunjukkan penguatannya. Pada perdagangan USDJPY berakhir turun di 112.27 bahkan sempat di 112.04, mendekati level support 111,92. Sentimen pelemahan Dolar AS berpeluang mendorong USDJPY ke 111.67. Berbaliknya sentimen pasar, bisa membawa USDJPY ke 112.45. (Lukman Hqeem).