Venezuela

Esandar Arthamas Berjangka merupakan pialang resmi yang terdaftar di BAPPEBTI. Anggota dari Bursa Berjangka Jakarta dan Kliring Berjangka Indonesia.

ESANDAR, Jakarta – Gejolak politik di Venezuela dapat menyebabkan penurunan suplai minyak mentah dalam waktu dekat untuk beberapa instalasi penyulingan A.S. Dalam jangka panjang, hal itu dapat menyebabkan kenaikan produksi untuk negara Amerika Selatan, yang selama ini produksinya telah menderita di bawah rezim Presiden Nicolás Maduro, kata para analis pada hari Rabu (23/01).


Sebelumnya, lewat sebuah pernyataan, Presiden AS Donald Trump mengatakan AS telah secara resmi mengakui Juan Guaido, Ketua Majelis Nasional Venezuela, sebagai presiden sementara setelah majelis menyatakan Maduro tidak sah.


Pemerintahan Trump mengatakan kepada perusahaan-perusahaan energi A.S. “agar dapat memberlakukan sanksi minyak Venezuela segera minggu ini jika situasi politik di sana memburuk lebih jauh,” demikian ujar Trump lewat akun twitter sebagaimana disatir dari Reuters pada Rabu

Para pemrotes antipemerintah turun ke jalan-jalan di ibukota Venezuela, Caracas, untuk menuntut pengunduran diri Maduro. Maduro sendiri telah mengultimatum para diplomat AS agar dalam 72 jam bisa meninggalkan negara itu.


Langkah pemerintah memungkinkan AS untuk menahan dukungan, seperti memblokir pinjaman IMF, dan berpotensi memungkinkan AS untuk memberikan sanksi kepada negara yang melakukan bisnis dengan Maduro. Langkah ini akan menjadi signifikan ketika AS mengimpor sekitar 17,7 juta barel minyak mentah dan produk minyak bumi pada Oktober 2018, menurut Lembaga Informasi Energi.


Dengan kemungkinan sanksi minyak Trump kepada di Venezuela, sejumlah kilang pemurnian di Gulf Coast Amerika Serikat yang bergantung pada minyak mentah mungkin harus mencari di tempat lain. Bisa saja ini akan membuat “gangguan ekspor yang singkat,”. Pun demikian, dalam jangka panjang hal itu bisa memulihkan produksi minyak ke level pra-Chavez.


Sebagaimana diketahui, bahwa produksi minyak Venezuela turun dua pertiga, ketika negara ini di bawah pemerintahan Hugo Chavez, yang memerintah Venezuela dari 1999 hingga 2013. Chavez kemudian digantikan oleh Maduro. Dengan kondisi terkini, jika Venezuela di bawah Guaido maka produksi minyak Venezuela berpotensi dapat naik.


Harga Minyak berjangka pada hari Rabu ditutup lebih rendah, tetapi mampu mengurangi sebagian besar kerugian sebelumnya. Minyak mentah jenis West Texas Intermediate turun 39 sen, atau 0,7%, berakhir di $ 52,62 per barel di New York Mercantile Exchange. Sementara Minyak mentah Brent ditutup pada $ 61,14 per barel di ICE Futures Europe, turun 36 sen, atau 0,6%. (Lukman Hqeem)