Bursa Saham Asia

Esandar Arthamas Berjangka merupakan pialang resmi yang terdaftar di BAPPEBTI. Anggota dari Bursa Berjangka Jakarta dan Kliring Berjangka Indonesia.

ESANDAR, Jakarta – Bursa saham Asia dalam perdagangan hari Kamis (24/01) berakhir sebagian besar dalam kondisi naik. Sentimen kenaikan didorong keyakinan diri investor oleh hasil positif laporan keuangan emiten di bursa AS. Mereka optimis bahwa perekonomian Paman Sam berada alam jalurnya.


Sementara itu, data ekonomi Jepang yang buruk dalam dua hari berturut-turut ini telah membebani indek Nikkei 225. Alhasil Indek Nikkei brakhir turun 0,3% setelah survei pendahuluan menunjukkan manufaktur melambat pada Januari. Indek Hong Kong HSI berakhir naik 0,1% dan Indek KOSPI Korea Selatan naik 0,6%. Pada perdagangan sebelumnya, Indek S&P 500 naik 0,2% ke 2.638,70. Indek Dow Jones naik 0,7% menjadi 24.575,62 dan Indek Nasdaq naik 0,1% menjadi 7.025,77.


Saham-saham yang menguat antara lain Nikon melonjak, sementara Fast Retailing dan Sony jatuh. Di bursa Hong Kong, sejumlah nama-nama besar disektor teknologi seperti AAC dan Sunny Optical naik, meskipun Tencent turun. Saham produsen chip Korea Selatan SK Hynix melonjak meskipun laporan pendapatan mereka mengecewakan.


Sebelumnya, pendapatan kuartalan yang kuat oleh perusahaan-perusahaan besar seperti IBM, Proctor & Gamble dan United Technologies telah membantu kenaikan sebagian besar indek AS pada hari Rabu. Saham IBM melonjak 8,5% menjadi $ 132,89 setelah hasil kuartal keempat melampaui harapan.


Sayangnya, para pialang masih mengkhawatirkan tentang laporan bahwa AS telah menolak tawaran perundingan dengan pejabat perdagangan China untuk bertemu di Washington minggu ini. Tindakan ini sebagai reaksi kurangnya kemajuan dalam masalah-masalah hak kekayaan intelektual. Meskipun penasihat ekonomi Gedung Putih Larry Kudlow membantah penolakan itu.


Pada hari Kamis, survei pribadi menunjukkan bahwa sektor manufaktur Jepang melambat pada bulan Januari. Indeks manajer pembelian yang disusun oleh flash Markit / JMMA turun ke 50 dari 52,6 dibulan Desember.


Survei tersebut menemukan bahwa produksi utama dan pesanan baru mengalami kontraksi disaat ekspor merosot. Selang sehari sebelumnya, Jepang merilis data perdagangan yang lebih lemah dari perkiraan untuk bulan Desember. Angka ekspor Negeri Matahari Terbit mencatatkan penurunan terbesar dalam dua tahun, sebagian besar karena melambatnya permintaan dari China.


Mengkritisi perkembangan yang ada, Wakil Presiden China Wang Qishan membidik AS dalam komentar tajam di Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss. Wang mengatakan bahwa “Mengalih tanggung jawab atas masalah sendiri ke masalah lain tidak akan menyelesaikan masalah”. Pernyataan Wang ini mengacu pada perang dagang AS – China dimana kedua belah pihak memberlakukan pajak yang tinggi atas impor masing-masing. Wang lebih lanjut mengatakan bahwa China masih memiliki “potensi pasar yang sangat besar” meskipun terjadi penurunan yang lebih buruk dari yang diperkirakan sebelumnya.

Berlatar belakang perdebatan ini, indek utama Asia berfluktuasi di sekitar titik tengah. Tarik menarik pergerakan indek mencerminkan perdebatan akan prospek pertumbuhan yang sedang berlangsung. (Lukman Hqeem)