Perang Dagang menimbulkan kerawanan lapangan kerja.

Esandar Arthamas Berjangka merupakan pialang resmi yang terdaftar di BAPPEBTI. Anggota dari Bursa Berjangka Jakarta dan Kliring Berjangka Indonesia.

ESANDAR, Jakarta – Dalam sebuah peperangan, tidak ada pihak yang dimenangkan. Pepatah ini sesuai dengan kondisi China dan Amerika Serikat saat ini yang terlibat dalam Perang Dagang.

Kedua negara terlibat perang dagang terbesar saat ini. China mengakui, perang dagang membuat pertumbuhan ekonomi terganggu. Kalangan pengusaha Amerika Serikat, menilai Perang Dagang bisa menimbulkan pengangguran baru.

Dalam pernyataan diakhir pekan lalu, Rick Helfenbein, presiden dan CEO di American Apparel and Footwear Association (Asosiasi Produsen Alas Kaki dan Apparel Amerika Serikat), mengatakan bahwa bea masuk yang dikenakan oleh Pemerintahan Donald Trump. atas barang-barang impor China akan membuat konsumen Negeri Paman Sam harus membayar lebih tinggi untuk berbagai produk. Sejumlah masalah serius akan muncul dan mangganggu rantai pasokan dan bisa memukul bisnis kami, ungkpanya.

Pernyataan Helfenbein ini muncul setelah AS menerapkan tarif impor baru terhadap impor China senilai US$16 miliar (Rp 234 triliun) hari Kamis (23/8/2018) dan memaksa Beijing membalas dengan menerapkan bea impor terhadap produk AS dengan nilai yang sama. Ditambahkan olehnya bahwa apa yang akan terjadi selanjutnya sangat sederhana, harga akan naik, penjualan akan turun, pekerjaan akan hilang. Ini akan berdampak negatif pada ekonomi, ujarnya dalam acara ‘Squawk Box’ CNBC.

Industri pakaian dan alas kaki Amerika Serikat akan terpukul keras oleh tarif impor karena 41% dari semua pakaian jadi, 72% dari total alas kaki, dan 84% dari semua aksesori yang diimpor ke AS berasal dari China, kata Helfenbein. Hal itu disebabkan karena pilihan sumbernya terbatas, karena sebagian besar produk berasal dari China, Vietnam, Bangladesh, India, dan Indonesia.

Meskipun dunia ritel Amerika sejauh ini terlihat positif, namun dampak dari Perang Dagang ini baru akan terasa pada konsumen setidaknya dalam enam hingga sembilan bulan ke depan, katanya. Jika pemerintahan Donald Trump melanjutkan serangan dengan menambahkan tarif impor senilai US$200 miliar di barang-barang China, itu akan menjadi pukulan tambahan bagi industri AS.

Dua ekonomi terbesar dunia telah bertemu beberapa kali sejak Presiden Donald Trump berkuasa. Kedua negara berupaya menemukan menemukan penyelesaian dari isu-isu perdagangan karena Trump mempermasalahkan defisit perdagangan negaranya dengan China yang sangat besar. Para pejabat China yang dipimpin oleh Wakil Menteri Perdagangan Wang Shouwen mengadakan pembicaraan dengan mitra AS di Washington selama dua hari pada minggu lalu.

Hasil pertemuan tersebut, sebagaimana dikatakan oleh Kementerian Perdagangan China dalam sebuah pernyataan di situsnya hari Jumat bahwa kedua pihak memiliki pembicaraan yang “konstruktif dan jujur”. Pernyataan itu tidak memberikan rincian tentang pembicaraan, tetapi mengatakan kedua negara akan terus berhubungan untuk menentukan langkah selanjutnya. (Lukman Hqeem)