Bursa saham Eropa berakhir hijau setelah saham-saham perminyakan naik oleh kenaikan harga minyak mentah dunia.(Lukman Hqeem)

Esandar Arthamas Berjangka merupakan pialang resmi yang terdaftar di BAPPEBTI. Anggota dari Bursa Berjangka Jakarta dan Kliring Berjangka Indonesia.

ESANDAR, Jakarta – Naiknya harga minyak mentah dunia, membawa berkah bagi bursa saham Eropa. Pada perdagangan hari Selasa (25/09), bursa saham berakhir di area hijau, didorong oleh kenaikan harga saham perusahaan-perusahaan minyak besar. Sayangnya, merosotnya pendapatan produsen mobil BMW, membuat lompatan ini berat.


Indeks saham utama Eropa ditutup naik, disaat perhatian pasar tertuju pada rencana paparan hasil pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC). Indek Stoxx Europe 600 naik 0,5% menjadi 383,89, dan telah berakhir lebih tinggi dalam tujuh dari delapan sesi terakhir.


Sementara Indek DAX 30 Jerman naik 0,2% menjadi berakhir pada 12,374.66, sementara CAC 40 Prancis naik tipis kurang dari 0,1% pada 5,479.10, dan telah membukukan keuntungan dalam lima dari enam sesi terakhir. FTSE 100 Inggris naik 0,7% menjadi ditutup pada 7,507,56, naik dalam empat dari lima sesi terakhir.
Terkoreksinya Dolar AS juga membuat mata uang Euro dan Poundsterling naik. Pada perdagangan EURUSD , menguat hingga $ 1,1761 dibandingkan $ 1,1749 akhir Senin, sementara GBPUSD, diperdagangkan pada $ 1,3163, naik dari $ 1,3119 pada akhir perdagangan hari Senin.


Pendorong utama kenaikan pasar Eropa adalah minyak Brent yang memperpanjang kenaikannya hingga ke posisi tertinggi dalam empat tahun pada hari Senin. Kenaikan harga ini terjadi setelah A.S. kembali menegaskan sanksi terhadap Iran. Sementara itu, selama akhir pekan para produsen minyak utama tidak menunjukkan tanda-tanda upaya meningkatkan produksi, meskipun ada tekanan dari AS. Presiden Donald Trump agar mereka tidak membiarkan harga minyak naik tinggi.


Ada beberapa optimisme seputar proposal anggaran Italia, yang diajukan pemerintah negara itu pada minggu ini. Muncul kekhawatiran bahwa anggaran tersebut dapat diatur diantara politisi dan Uni Eropa. Hal itu bisa menjadi faktor risiko untuk euro, yang telah jatuh dari $ 1,1775 setelah kepala ekonom Bank Sentral Eropa Peter Praet mengecilkan makna komentar Presiden ECB Mario Draghi dihari Senin. Padahal Euro naik pada hari Senin setelah Draghi mengatakan bahwa inflasi zona euro yang mendasarinya akan menguat.


Secara terpisah, Presiden Donald Trump pada hari Selasa mengecam rezim Iran dalam sebuah pidato di Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York, sementara dia memuji pemimpin Korea Utara dan menggesek pada Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC).


Kini perhatian investor akan terfokus pada pertemuan dua hari The Federal Reserve yang berakhir Rabu. The Fed diperkirakan akan memberikan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin. Kebijakan moneter bergerak di ekonomi terbesar dunia itu diawasi dengan ketat karena mempengaruhi perdagangan di Eropa.


Saham-saham yang meningkat akibat kenaikan harga minyak antara lain BP PLC., naik 2,9%, Total SA, naik 1,3% dan Royal Dutch Shell PLC ditutup 2,4% lebih tinggi. Berikutnya PLC NXT, yang sahamnya melonjak 7,7%, sebagai pemenang teratas untuk bursa Stoxx Europe 600 karena pengecer mencatat kenaikan laba yang sehat dan penjualan yang lebih baik dari perkiraan pada bulan Agustus.


Di ujung lain, saham BMW AG merosot 5,4% dan merupakan emiten paling merosot setelah pabrikan mobil asal Jerman ini memangkas tampilan labanya. Ia menyalahkan peraturan pengujian baru di Eropa dan kekhawatiran perdagangan global akibat perang dagang. Kerugian BMW membebani produsen mobil Jerman lainnya, seperti Daimler AG yang sahamnya turun 1,8% dan Volkswagen AG dimana sahamnya turun sebesar 1,9%. (Lukman Hqeem)