Esandar Arthamas Berjangka merupakan pialang resmi yang terdaftar di BAPPEBTI. Anggota dari Bursa Berjangka Jakarta dan Kliring Berjangka Indonesia.

Harga minyak berakhir lebih rendah pada perdagangan di hari Kamis (21/12/2023) setelah Angola mengatakan akan keluar dari Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC). Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang upaya kelompok produsen tersebut untuk terus mendukung harga tetap tinggi dengan membatasi pasokan global.

Minyak mentah berjangka Brent, yang harganya menjadi patokan global merespon jabar tersebut dengan turun 31 sen ke $79,39 per barel. Sementara harga minyak mentah Amerika Serikat di bursa berjangka, West Texas Intermediate turun 33 sen menjadi $73,89 per barel.

Pada awal perdagangan, kedua harga minyak acuan tersebut sama-sama turun lebih dari $1 setelah Angola mengatakan pihaknya berencana untuk meninggalkan grup tersebut.

Menteri Perminyakan Angola Diamantino Azevedo mengatakan keanggotaan negaranya di OPEC tidak memenuhi kepentingannya. Kelompok produsen yang dipimpin Arab Saudi dalam beberapa bulan terakhir telah menggalang dukungan untuk memperdalam pengurangan produksi dan meningkatkan harga minyak.

Melihat potensi perpecahan ini, nampaknya OPEC kalah dalam upaya menjaga harga tetap tinggi. Para produsen non-OPEC seperti AS sendiri telah mengambil tindakan untuk mengisi kesenjangan pasokan.

Angola memproduksi sekitar 1,1 juta barel per hari (bpd), dibandingkan dengan 28 juta barel per hari untuk seluruh kelompok. Keluarnya negara tersebut menimbulkan pertanyaan tentang kohesi dan arah OPEC, meskipun OPEC adalah salah satu produsen terkecil dan kepergiannya mungkin memiliki dampak terbatas pada pasokan global.

Pada pertemuan di bulan November, Angola memprotes keputusan OPEC yang memotong kuota produksinya pada tahun 2024 untuk membantu menopang harga minyak.

Secara terpisah, Badan Informasi Energi AS (EIA) mengatakan produksi minyak mentah AS naik ke rekor 13,3 juta barel per hari (bph) pada pekan lalu, naik dari rekor tertinggi sepanjang masa sebelumnya sebesar 13,2 juta barel per hari. (EIA/S)

AS siap untuk meningkatkan produksi di Permian Basin dan di seluruh negeri. Upaya ini dianggap dapat memitigasi risiko harga di AS dan benar-benar membuat Rusia dan Saudi kembali terkejar.

Sementara itu, serangan baru-baru ini yang dilakukan kelompok militan Houthi Yaman untuk mendukung warga Palestina terhadap kapal-kapal yang menuju pelabuhan Israel telah memaksa kapal-kapal induk utama untuk menghindari Laut Merah, sehingga menyebabkan gangguan perdagangan global.

Namun dengan banyaknya minyak mentah AS yang dilaporkan dalam jumlah besar, kita hanya bisa berasumsi bahwa pasar masih gelisah sehubungan dengan pengalihan pasokan atau bahkan jeda yang disebabkan oleh serangan Houthi terhadap pengiriman.

Konflik antara Israel dan Hamas sendiri masih terus meningkat di tengah pembicaraan gencatan senjata.