Uang Dolar AS

Lebih dari satu dekade menjadi jurnalis ekonomi dan gaya hidup, khususnya pasar modal, komoditi dan mata uang. Menyukai travelling disaat liburan atau mengatur koleksi filateli.

ESANDAR – Dolar Amerika Serikat (AS) jatuh ke posisi terendah dalam dua minggu ini dalam perdagangan di hari Senin (2/12/2019) setelah data ekonomi menunjukkan sektor manufaktur AS mengalami kontraksi untuk empat bulan berturut-turut pada bulan November dan pengeluaran konstruksi turun secara tak terduga, memicu kekhawatiran ekonomi terbesar dunia itu akan masuk ke dalam resesi. Secara khusus, Dolar turun dari posisi tertinggi dalam enam bulan terhadap yen dan merosot ke palung terdalam dalam dua minggu terhadap Euro paska laporan sektor manufaktur  tersebut.

Laporan yang dirilis oleh Indeks Institute for Supply Management (ISM) menyatakan bahwa aktivitas manufaktur turun menjadi 48,1 pada November dari 48,3 pada Oktober, turun untuk bulan keempat. Angka itu di bawah ekspektasi 49,2 dari jajak pendapat Reuters dari 57 ekonom. Secara terpisah, juga dilaporkan adanya pengeluaran konstruksi AS pada Oktober turun juga, turun 0,8% karena investasi pada proyek-proyek swasta jatuh ke level terendah dalam tiga tahun. Hal ini membuat indeks saham AS turun dan dolar AS tergelincir.

Dari performa dolar AS terkini, terlihat potensi penurunan suku bunga lagi oleh Federal Reserve di tahun depan. The Fed telah memangkas suku bunga tiga kali tahun ini dan pada pertemuan kebijakan moneter terakhirnya, itu mengisyaratkan akan bergantung pada data ke depan.

Sementara itu, data terbaru dari Tiongkok, ekonomi terbesar kedua di dunia, mengatur nada untuk pasar mata uang. Aktivitas pabrik Cina berkembang pada laju tercepat dalam hampir tiga tahun pada November, sebuah survei bisnis swasta menunjukkan pada hari Senin, menyusul data resmi optimis selama akhir pekan. Survei tersebut juga menunjukkan total pesanan baru dan produksi pabrik pada tingkat yang tinggi.

Pada perdagangan sebelumnya, greenback menguat terhadap yen setelah rebound tak terduga dalam aktivitas manufaktur Cina mengangkat harapan prospek cerah untuk pertumbuhan dunia. USDJPY berada dalam tren naik terhadap yen selama beberapa minggu terakhir, naik dalam tujuh dari sembilan sesi. USDJPY mengakhiri perdagangan di 108.96 atau lebih rendah 0,43%.

USDJPY potensial untuk melanjutkan pergerakan turun, yang merupakan bagian dari fase koreksi setelah 8 hari bergerak bullish. Jika 108.91 yang merupakan level terendah dalam perdagangan hari Senin tertembus kembali, maka USDJPY berpeluang ke target selanjutnya di 108.74 dan 108.60. Berbaliknya arah akan membuat pasangan USDJPY berusaha ke 109.05, 109.19, dan 109.38.

Dalam perdagangan lain, Poundsterling sempat turun 0,1% sebelum akhirnya berbalik naik, karena jajak pendapat menunjukkan penyempitan posisi kepemimpinan Partai Konservatif sebelum pemilihan umum Inggris pada 12 Desember. Ada peningkatan paralel pada jajak pendapat yang terlihat pada pemilu tahun 2017 dengan apa yang terlihat sekarang, sehingga bisa membatasi kenaikan sterling. 

GBPUSD berakhir di 1.2942 atau lebih tinggi 0,06%. Meski mulai berada di atas downtrend line, potensi bullish GBPUSD terlihat tidak besar, apalagi sejumlah resistensi kuat siap menghadangnya, yaitu 1.2951, 1.2970, dan 1.2985. Jika terjadi koreksi dan pair ini jatuh ke bawah area 1.2930, potensi bearish dapat membesar dengan target di support-support intraday 1.2919 dan 1.2900.

Euro sendiri menutup sesi perdagangan di 1.1078 atau lebih tinggi 0,55%. Dorongan kenaikan pada pasangan ini berpotensi masih berlanjut selama EURUSD tetap bergerak di atas level support 1.1060-50. Koreksi yang terjadi akan mengarah EURUSD untuk mencoba ke area 1.1040-1.1020. Dorongan kenaikan lebih lanjut akan membawa Euro ke 1.1090 – 1.1126 per dolar AS.