FOMC (Ilustrasi)

Esandar Arthamas Berjangka merupakan pialang resmi yang terdaftar di BAPPEBTI. Anggota dari Bursa Berjangka Jakarta dan Kliring Berjangka Indonesia.

ESANDAR, Jakarta – Pada perdagangan hari Rabu (17/10), pasar uang Asia relative tenang. Investor memilih untuk menunggu risalah FOMC.


Pelaku pasar tentu tidak sabar ingin melihat sejauh mana kebijakan Bank Sentral AS akan dijalankan dalam satu kwartal kedepan. Setidaknya ada risiko yang cukup besar untuk melihat hasil yang bersifat hawkish. Terlebih lagi setelah pemanasan yang sedikit hawkish menjelang menit FOMC malam ini yang disampaikan oleh Gubernur Bank Sentral AS wilayah San Fransisco, Daly yang menciptakan sedikit kebisingan saat ini.

Nada risalah yang bersifat hawkish akan menggiring dolar kembali ke kandang mereka selama sisa minggu ini dan memberikan dorongan untuk sentimen dolar AS.
Tentu saja potensi penguatan Dolar AS ini akan memukul perdagangan komoditi. Harga emas misalnya, yang sempat menguat dari kerugian sebelumnya bisa terkoreksi kembali.

Besarnya risiko yang signifikan di sekitar pemilihan paruh waktu AS, ditambah dengan eskalasi kegelisahan geopolitik membuat daya tarik emas sebagai pelindung investasi menguat. Akan tetapi dengan potensi kenaikan Dolar AS dari risalah FOMC tersebut bisa membawa Emas tertahan di $ 1235.

Pun demikian, sentiment geopolitik dan ketidakpastian yang lainnya, masih membuka peluang harga emas naik setidaknya ke $ 1250.

Harga minyak sendri di pasar Asia relative stabil didukung oleh sanksi Iran karena pedagang menunggu laporan status minyak mingguan EIA akhir yang akan dirilis nanti di sesi AS.


Dalam perdagangan di bursa saham, tidak terlalu mengherankan sejumlah saham bisa memantul kembali dan memberi jalan ketika pasar tergagap dalam KTT Uni Eropa. Meskipun tidak bisa melupakan. begitu saja risiko global. Pertumbuhan ekonomi AS sendiri yang terisolasi akan berakhir tidak begitu halus seperti yang diselaraskan tema pertumbuhan global, setidaknya sampai perselisihan perdagangan AS-Cina diselesaikan.


Dengan latar belakang semakin kuatnya perang dagang AS- China, terlalu dini untuk membangun portofolia saham di Asia terlebih dengan beban besar yang tergantung pada sentimen pasar. Meskipun demikian pasar bisa melakukan rebound, terutama jika ada partisipasi omset yang cukup besar.


Banyak kabar beredar bahwa Presiden AS Donald Trump akan menerima keputusan Departemen Keuangan AS untuk tidak menyebut China sebagai manipulator mata uang. Ada risiko susulan yang signifikan jika Presiden tidak mengakui temuan Departemen Keuangan ini. Setidaknya bisa melihat pada nilai nominal yang kompleks dalam penjualan RMB. Disisi lain pasar ekuitas juga melengkung karena ketegangan perang dagang AS – China berimplikasi secara signifikan.