Jepang - Barang Konsumsi

Lebih dari satu dekade menjadi jurnalis ekonomi dan gaya hidup, khususnya pasar modal, komoditi dan mata uang. Menyukai travelling disaat liburan atau mengatur koleksi filateli.

ESANDAR, Jakarta – Harga Barang Inti di tangan konsumen Jepang relatif stabil di bulan Januari. Ini mengindikasikan sebuah bahwa ekonomi yang menguat belum mendorong perusahaan menaikkan harga. Disisi lain ada tantangan yang belum dapat diatasi oleh para pembuat kebijakan meski bertahun-tahun mengeluarkan stimulus besar, inflasi masih lemah.

Inflasi yang lemah telah memaksa Bank of Japan untuk mempertahankan kebijakan yang sangat longgar bahkan saat pemulihan ekonomi mendapatkan momentum, hal ini menunjukkan bahwa BoJ akan tertinggal dari kelompok bank sentral globalnya dalam memangkas kembali stimulus sejak era krisis.

Indeks harga konsumen inti naik untuk bulan ke-13 berturut-turut pada bulan Januari, meningkat sebesar 0,9% dari tahun sebelumnya, sesuai dengan tingkat pertumbuhan Desember, demikian data dari Kementerian Urusan Dalam Negeri dan Komunikasi. Hasilnya sedikit lebih tinggi dari perkiraan 0,8% oleh para ekonom yang disurvei oleh Nikkei. CPI inti tidak termasuk harga pangan segar yang volatile. Inflasi harga konsumen diluar makanan segar dan energi, naik 0,4% pada bulan Januari dari tahun sebelumnya, dibandingkan dengan kenaikan bulan Desember sebesar 0,3%.

Indeks harga konsumen inti nasional, yang mencakup produk minyak namun tidak termasuk biaya makanan segar yang volatile, pada bulan Januari stabil dilevel 0.9 persen dari bulan sebelumnya, data pemerintah yang dirilis pada hari Jumat. Lebih baik dibandingkan dengan perkiraan ekonom yang memproyeksikan kenaikan 0.8 persen.

Ada anggapan bahwa harga energi semestinya sudah naik menjelang pertengahan tahun ini. Hal ini akan menopang laju inflasi meskipun diakhir tahun akan melambat lagi. Lemahnya inflasi juga disebabkan pertumbuhan upah tenaga di Jepang yang masih rendah. Sementara disektor jasa, malah tidak muncul sama sekali. Alhasil target inflasi 2% yang ditetapkan Bank of Japan masih jauh dari jangkauan.

Pada kwartal akhir ditahun lalu, perekonomian Jepang tumbuh 0.5%,  ini merupakan ekspansi terpanjang sejak ledakan pertumbuhan ekonomi pada decade 1980-an. Kenaikan ini berkat belanja konsumen yang kuat diakhir tahun. Sayangnya, inflasi 2% masih tetap tak terkejar. Hal ini karena sejumlah perusahaan menahan diri untuk menaikkan harga sekaligus upah pekerja, alasannya kondisi ekonomi masih tidak menentu.

Kondisi yang demikian ini memang menyulitkan pemerintahan Perdana Menteri Shinzo Abe. Dimana dia  telah mendorong perusahaan menaikkan upah sebesar 3 % atau lebih untuk memacu belanja konsumen, sekaligus menekan perusahaan untuk menghabiskan uang tunai mereka demi memperluas manfaat penguatan ekonomi. Analis mengatakan hasil negosiasi upah tahunan karena sekitar pertengahan Maret mungkin menjadi kunci untuk menentukan arah inflasi di masa depan di Jepang.

Data terakhir ini datang seminggu setelah pemerintah PM. Shinzo Abe merekomendasikan Haruhiko Kuroda sebagai Gubernur Bank Senral Jepang untuk masa jabatan kedua yang dimulai lima tahun setelah dia dengan berani berjanji akan mencapai inflasi 2% dalam dua tahun.

Sementara itu, ada kekhawatiran tekanan dari kenaikan inflasi AS yang membuka peluang percepatan laju kenaikan suku bunga The Fed. Hal ini sempat mengejutkan pasar saham global dan menjadi koreksi di awal bulan ini. Kondisi terkini nampaknya menunjukkan bahwa BOJ belum siap untuk bergabung dalam sebuah gelombang global kebijakan moneter yang lebih ketat.

Disisi lain muncul pula kekhawatiran akan dampak penguatan yen baru-baru ini. Penguatan yen merupakan elemen penting dalam negosiasi upah antara perusahaan dengan pekerjanya. Secara alamiah, perusahaan akan berhati-hati dalam menaikkan gaji pokok. Mereka merasa tidak yakin dengan pendapatan mereka di masa depan. (Lukman Hqeem)