Emas

Esandar Arthamas Berjangka merupakan pialang resmi yang terdaftar di BAPPEBTI. Anggota dari Bursa Berjangka Jakarta dan Kliring Berjangka Indonesia.

ESANDAR, Jakarta – Harga Emas berakhir lebih rendah dalam perdagangan diawal minggu ini, Senin (01/04) sekaligus mengawali perdagangan di kwartal kedua tahun ini. Nada optimis pada aktifitas ekonomi baik di China dan AS memberikan dorongan kenaikan pada bursa saham. Para pelaku pasar merasa lebih tenang dengan masa depan pertumbuhan ekonomi seiring dengan prospek perundingan kedua negara ini dalam sengketa dagang. Kenaikan yang terjadi di bursa saham menurunkan minat investor atas aset safe haven, dalam hal ini emas.

Harga emas untuk kontrak pengiriman bulan Juni berakhir turun, $4,30 per troy ons atau turun 0,3% menjadi $ 1,294.20 per troy ons. Dalam perdagangan pekan lalu, harga Emas di bawah tekanan dan jatuh kembali di bawah level $ 1.300 per troy ons. Pada basis yang paling aktif, emas mengakhiri kuartal dengan kenaikan sekitar 1,1% dimana kenaikan tertinggi di bulan Februari mendekati harga $ 1,348 per troy ons.

Indeks saham AS naik tajam pada hari Senin, bergabung dengan kenaikan bursa saham global. Pelaku pasar nerasa optimis dengan sejumlah data ekonomi menyusul kenaikan indeks pembelian manajer dari Caixin di China menjadi 50,8 pada Maret dari 49,9 pada Februari. Untuk pertama kalinya angka indek ini berada di atas 50 yang menandakan adanya aktiftas ekspansi selama empat bulan terakhir.

Selain itu, indeks manufaktur Institute for Supply Management (ISM) menunjukkan bahwa aktivitas di A.S. mengalami akselerasi, naik ke 55,3 yang lebih kuat dari yang diperkirakan pada bulan Maret dibandingkan posisi terendah dalam dua tahun di 54,2% yang tercatat pada bulan sebelumnya.

Dengan sejumlah data tersebut, permintaan untuk saham mengalami kenaikan. Tercermin dalam reli di Indek Dow Jones dan indeks S&P 500 yang mengisyaratkan berkurangnya selera untuk aset safe haven, seperti emas. Bahkan dengan tambahan daya apung seiring dengan imbal hasil, yang bergerak terbalik terhadap harga obligasi, juga mengurangi pembelian logam mulia. Meningkatnya imbal hasil obligasi pemerintah membuat emas, yang tidak menghasilkan, relatif kurang menarik. Imbal hasil Obligasi AS tenor 10-tahun menghasilkan pada 2,50%, dibandingkan dengan 2,41 pada hari Jumat.

Tren penurunan harga emas juga semakin kental setelah dolar AS, sebagai katalis utama untuk pergerakan komoditas, berubah naik. Indek Dolar AS naik kurang dari 0,1% pada 97,229. Pada perdagangan dimana harga emas jatuh seiring dengan melemahnya Dolar AS, terjadi karena investor memusatkan perhatian pada penguatan kembali atas imbal hasil obligasi global.

Logam mulia pada tahun 2019 telah melihat sebagian besar keuntungannya ditutup dengan optimisme atas kesepakatan perdagangan China-AS, merujuk pada pertengkaran perdagangan jangka panjang antara Beijing dan Washington bahwa investor melihat mendekati titik resolusi.

Disisi lain, kejutan-kejutan yang berkelanjutan atas data dari China beserta perkembangan pembicaraan perdagangan yang terus progresif mencegah harga emas memecah harga lebih tinggi. (Lukman Hqeem)