Hubungan Harga Emas dan Saham

Lebih dari satu dekade menjadi jurnalis ekonomi dan gaya hidup, khususnya pasar modal, komoditi dan mata uang. Menyukai travelling disaat liburan atau mengatur koleksi filateli.

ESANDAR, Jakarta – Harga emas jatuh pada Jumat (13/07) ke posisi terendah sepanjang hampir satu tahun terakhir. Logam mulia gagal menemukan dukungan dari aksi safe-haven yang dilakukan investor saat menyikapi perkembangan Perang Dagang AS – Cina, dimana dolar AS justru naik sepanjang minggu ini.

Emas untuk kontrak pengiriman bulan Agustus turun $ 5,40, atau 0,4%, di $ 1,241.20 per troy ons, menandai penyelesaian terendah untuk kontrak paling aktif sejak 17 Juli 2017. Dalam catatan mingguan, mengalami penurunan 1,2%, kerugian keempat dalam lima minggu terakhir.

Dolar menguat, membuat permintaan safe haven ke greenbacks lebih besar. Kenaikan ini sejalan dengan memanasnya bentrokan perdagangan antara AS dan Cina dan mendorong lebih tinggi pada ekspektasi kenaikan suku bunga. Sentimen ini telah menjadi angin sakal yang paling signifikan untuk emas. Penguatan greenback dapat membuat komoditas terkait dengan unit moneter, seperti emas, lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lainnya. Indek Dolar AS naik 0,8% sepanjang minggu ini.

Pasar dianggap gagal memanfaatkan dukungan dari masalah perdagangan global saat ini. Sentimen yang bisa menjadi pendorong kenaikan Emas, gagal terbentuk dan mendorong harga naik. Meningkatnya risk aversion, tidak serta merta menjadi aksi safe haven yang menguntungkan emas. Logam mulia ini nampak kehilangan daya tahannya sebagai aset safe haven. (Lukman Hqeem)