Harga emas terkoreksi tajam oleh multi sentimen pasar. (Lukman Hqeem/Istimewa).

Esandar Arthamas Berjangka merupakan pialang resmi yang terdaftar di BAPPEBTI. Anggota dari Bursa Berjangka Jakarta dan Kliring Berjangka Indonesia.

ESANDAR, Jakarta – Harga emas berhasil menembus harga psikologisnya pada perdagangan hari Jumat (25/01). Kekhawatiran investor akan mesalah geopolitik dan pertumbuhan ekonomi global menjadi sentiment kuat pendorong kenaikan harga logam mulia ini.


Melemahnya Dolar AS memperkuat kenaikan harga hingga mencatat rekor tertinggi sejak Juni 2018. Indek Dolar AS turun 0,8%, dan diperdagangkan 0,5% lebih rendah untuk minggu ini. Dolar AS melemah jelang pertemuan FOMC minggu depan. Ada harapan tinggi bahwa The Federal Reserve akan kembali memberikan hasil yang bersifat lebih kalem atau dovish dalam siklus kenaikan suku bunganya.


Harga emas untuk kontrak pengiriman bulan Februari, dibursa Comex naik $ 18,30, atau 1,4%, berakhir di $ 1,304.20 per troy ons. Harga bahkan sempat mencapai posisi tertinggi di $ 1,305.80. Sementara untuk harga kontrak bulan April ditutup pada harga tertinggi sejak Juni dan naik 1,2% untuk minggu ini.


Kenaikan harga emas mencerminkan ketidakpastian politik baik di AS, Zona Euro, Venezuela serta sengketa perdagangan China – AS. Investor merasa was-was dan tidak nyaman dengan kondisi saat ini sehingga mereka memilih untuk melakukan aksi risk-off,
Berita dari China menunjuk kondisi ekonomi negeri tirai bambu ini masih mengarah pada pelemahan lebih lanjut. Meski ada dana yang disuntikkan, tercatat sebagai rekor baru sebesar $ 83 miliar untuk meningkatkan ekonomi mereka, namun hal itu belum memberikan kemajuan yang berarti bagi pembicaraan perdagangan AS – China.


Sementara itu, Dana Moneter Internasional memangkas perkiraan pertumbuhan ekonomi global tahun 2019 awal pekan ini. Sebelumnya, serangkaian data ekonomi dari China mengabarkan kondisi yang suram. Situasi yang demikian ini menopang permintaan emas sebagai aset surgawi, safe haven.
Perlu diperhatikan bahwa yuan telah meningkat di tengah harapan atas resolusi dalam sengketa perdagangan AS – China.

Dengan Renminbi yang lebih kuat, konsumen Tiongkok dapat membeli lebih banyak emas daripada sebelumnya, terlebih menjelang Tahun Baru China atau Imlek bulan Februari ini.

Shutdown layanan pemerintah AS yang terjadi kemarin selama sekitar satu bulan menurut John Williams, Gubernur Bank Sentral AS wilayah New York memperingatkan bahwa hal itu bisa memukul pertumbuhan ekonomi.


Sementara masalah geopolitik di Eropa, termasuk masalah Brexit semakin memperkeruh suasana saat ini dalam ketidak pastian. (Lukman Hqeem)