Inggris

Lebih dari satu dekade menjadi jurnalis ekonomi dan gaya hidup, khususnya pasar modal, komoditi dan mata uang. Menyukai travelling disaat liburan atau mengatur koleksi filateli.

ESANDAR – Data ekonomi Inggris terkini menunjukkan bahwa laju inflasi dilaporkan melampaui target bank sentral. Namun demikian, Poundsterling belum menjauh dari kisaran terendah sejak bulan Januari 2017. Pasalnya, para investor masih menitik beratkan perhatian mereka pada kemungkinan keluarnya Inggris dari Uni Eropa tanpa kesepakatan lintas batas sama sekali, Hard Brexit

Kantor Statistik Nasional Inggris (ONS) melaporkan bahwa laju inflasi konsumen naik dari 2.0 % menjadi 2.1 % secara tahunan, pada bulan Juli. Hasil ini melampaui target Bank of England (BoE) yang mematok angka inflasi pada level 2.0 %. 

Inflasi inti juga mencatat kenaikan yang menggembirakan dari 1.8 persen menjadi 1.9 persen secara tahunan, meskipun sebelumnya diperkirakan akan stagnan. Meski agak mengecewakan bagi konsumen Inggris dan BoE, namun laju inflasi harga konsumen tetap menanjak ke angka 2.1 % dari 2.0 persen pada bulan Juni. Daya beli konsumen sendiri masih lamban  meski terus membaik belakangan ini. Kenaikan pertumbuhan pendapatan memang lamban.

Hasil data ini bisa masih seulit mengubah arah kebijakan suku bunga BoE saat ini. BoE telah berulangkali menegaskan tidak akan melakukan perubahan suku bunga sebelum polemik brexit terselesaikan, dan bahkan mengisyaratkan bakal membatalkan kenaikan suku bunga jika terjadi “Hard Brexit”. 

Depresiasi Poundsterling tak lepas dari masalah ini. Hasil survei Reuters terbaru menunjukkan kenaikan ekspektasi “Hard Brexit” dari 30 persen pada bulan Juli menjadi 35 persen pada bulan Agustus.  Para analis dari bank investasi global asal Jepang MUFG bahkan memperkirakan ada probabilitas “Hard Brexit” sebesar 60 persen, sehingga Poundsterling masih akan melemah lebih jauh lagi terhadap Dolar AS dan Euro sebelum akhir tahun 2019.