Wall Street - Bursa Saham AS

Esandar Arthamas Berjangka merupakan pialang resmi yang terdaftar di BAPPEBTI. Anggota dari Bursa Berjangka Jakarta dan Kliring Berjangka Indonesia.

ESANDAR, Jakarta – Bursa saham A.S. pada hari Senin (07/01) ditutup naik, melanjutkan kenaikan hari Jumat. Investor melihat tanda-tanda mencairnya sengketa perdagangan AS dan China.


Indek Dow Jones naik 98,19 poin, atau 0,4%, ke 23.531,35, sedangkan indek S&P 500 naik 17,75 poin, atau 0,7% ke 2.549,69. Indek Nasdaq melonjak 84.61 poin, atau 1.3%, ke 6.823.47. Pada hari Jumat, bursa saham menguat, dimana indek Dow Jones melonjak 3,3%, indek S&P 500 naik 3,4% dan Nasdaq melonjak 4,3%.


Para pejabat senior dari China secara tak terduga muncul bernegosiasi dengan rekan-rekan dari Washington di Beijing. Perundingan ini sebagai upaya menyelesaikan perselisihan perdagangan yang telah memicu ketidakpastian pasar global.
Wakil Perdana Menteri China Liu He, penasihat ekonomi utama untuk Presiden Cina Xi Jinping, hadir di antara hadirin, memicu optimisme pasar mengingat ia bisa mewakili birokrat tingkat atas China.


Pejabat perdagangan dari kedua negara berusaha untuk menuntaskan perjanjian selama 48 jam ke depan. Pun demikian ada keraguan tentang bagaimana cara terbaik untuk memastikan bahwa kedua negara menindaklanjuti janji yang dibuat selama pembicaraan dengan pemerintahan Trump yang masih mengkhawatirkan dengan sikap keras kepalanya.


Investor juga mengawasi masalah AS, penutupan layanan pemerintah federal yang telah memasuki hari ke-17. Sejumlah pegawai pemerintah telah terlewati gaji pertama mereka sebagai akibat dari kebuntuan perundingan antara Presiden Donald Trump dan anggota parlemen Demokrat atas pendanaan pembangunan dinding perbatasan AS-Meksiko.


Di tempat lain, Perdana Menteri Inggris Theresa May menetapkan tanggal 15 Januari untuk pemungutan suara parlemen atas rencananya untuk keluar dari Uni Eropa, yang secara luas diperkirakan akan kalah.


Indikator ekonomi terkini menunjukkan bahwa sektor jasa A.S. melaju paling lambat dalam lima bulan terakhir di bulan Desember kemarin, demikian sebagaimana data dari Institute for Supply Management yang dirilis Senin. Indeks turun ke angka 57,6% pada bulan Desember, dari 60,7%, dan di bawah ekspektasi ekonom 58,7%, menurut jajak pendapat MarketWatch. Angka diatas 55% dianggap luar biasa, sehingga laporan ini mencerminkan bisnis yang cepat bahkan saat kondisinya sedikit memburuk.


Sementara itu rencana penerbitan laporan pesanan pabrik untuk bulan November telah ditunda karena penutupan layanan pemerintah tersebut.


Dengan latar belakang fundamental yang demikian ini, bursa saham diperkirakan masih akan positif. Pendapatan emiten masih akan sehat. Sementara The Fed akan menghentikan atau melambatkan rencana menaikkan suku bunganya.


Namun ada sejumlah risiko yang muncul kembali, seperti pembicaraan perdagangan AS-Cina yang sedang berlangsung dan penutupan pemerintah. Kemampuan pemerintah AS menangani isu-isu ini akan menjadi modal penting dalam meyakinkan investor untuk kenaikan bursa lebih lanjut. Investor mungkin menerapkan ‘diskon” untuk penilaian ekuitas karena mereka melakukan lindung nilai terhadap ancaman kerusakan ekonomi yang berkelanjutan.


Diawal tahun ini, perdagangan bursa masih terkejut dengan penurunan yang terjadi diujung tahun kemarin. Sejumlah perusahaan telah pula mulai membunyikan alarm adanya penurunan pendapatan. Ini sebagai konsekuensi yang jelas dari perang dagang AS – China. Perusahaan multinasional akan menanggung beban perang dagang karena pendapatannya tidak sesuai perkiraan.


Di lantai bursa saham Eropa, Indek Europe 600 turun 0,2%. Sementara dalam perdagangan komoditi, harga minyak dan emas naik setelah Indek Dolar AS melemah. (Lukman Hqeem)