Bursa saham AS berakhir turun

Esandar Arthamas Berjangka merupakan pialang resmi yang terdaftar di BAPPEBTI. Anggota dari Bursa Berjangka Jakarta dan Kliring Berjangka Indonesia.

ESANDAR, Jakarta – Bursa saham Amerika Serikat ditutup lebih tinggi pada perdagangan Senin (10/12). Indek bursa saham utama bangkit kembali dari kerugian sebelumnya karena munculnya kepercayaan baru terhadap penguatan ekonomi AS. Hal ini mengimbangi kekhawatiran sebelumnya yang muncul karena perselisihan Perang Dagang AS – Cina.


Indek Dow Jones naik 34,31 poin, atau 0,1%, berakhir pada 24.423,26, sedangkan S & P 500 naik 4,64 poin, atau 0,2%, menjadi 2,637.72. Indek Nasdaq naik 51,27 poin, atau 0,7%, ditutup pada 7.020,52. Awalnya, indek Dow Jones sempat kehilangan lebih dari 500 poin, sementara S & P telah turun 50 poin dan Nasdaq telah turun 81 poin.


Pada perdagangan di bursa regional Asia ditutup dalam kondisi minus. Indek Shanghai China turun 0,8% dan indek Nikkei 225 turun 2,1%, sementara bursa saham Eropa juga menurun kemudian.


Sementara dalam perdagangan komoditi, harga Minyak mentah AS turun tajam, sementara emas menetap lebih rendah. Indek dolar AS (DXY) naik 0,7%.


Kekhawatiran atas pertumbuhan global serta kesengsaraan perdagangan membayangi pasar di awal setelah data terbaru menunjukkan perlambatan tajam dalam pertumbuhan ekspor Cina yang memicu kekhawatiran bahwa pasar bull saat ini berada di belakang kami.


Namun, keyakinan bahwa ekonomi AS, setidaknya, bisa terus tumbuh pada kecepatan yang sehat ke tahun depan dan melampaui dinetralkan beberapa kegugupan terburuk, sebagian karena komentar dari bank-bank berpengaruh seperti JP Morgan dan Goldman Sachs yang takut tentang Pertumbuhan ekonomi AS terlalu dibesar-besarkan.


Pandangan mereka didukung oleh beberapa indikator, termasuk survei ISM yang menunjukkan permintaan yang tangguh. Departemen Tenaga Kerja juga mengatakan lowongan pekerjaan AS naik menjadi 7,08 juta pada Oktober, dari 6,96 juta sebulan sebelumnya.


Tapi kini muncul kekhawatiran bari terkait Perang Dagang, yang dianggap bisa menjadi penghalang datangnya keuntungan yang biasanya didapat pada akhir tahun secara tradisional. Wakil Menteri Luar Negeri China Le Yucheng telah memanggil duta besar AS pada hari Minggu kemarin. Ia mendesak AS agar menarik surat perintah penangkapan kepada CEO Huawei Meng Wanzhou, yang ditahan pada 1 Desember di Kanada.


Pelaku pasar merasa khawatir bahwa penangkapan eksekutif Huawei tersebut bisa memicu kerugian tajam bagi Wall Street dan pasar global pekan lalu. Disisi lain juga akan membuat sulit bagi China untuk menindaklanjuti konsesi perdagangan kepada Investor AS yang sudah meragukan kemajuan yang dibuat antara kedua negara pada pertemuan G-20 baru-baru ini.


Kekhawatiran atas konflik perdagangan yang meningkat juga diperparah oleh komentar dari Perwakilan Perdagangan AS Robert Lighthizer, yang mengatakan kepada CBS pada hari Minggu bahwa dia menganggap moratorium 90 hari dari tarif baru yang diberikan kepada Cina merupakan “batas waktu yang keras,”. Pemerintah AS tidak mempertimbangkan untuk menunda pengenaan tariff jika kedua pihak tidak setuju dengan gencatan senjata pada 1 Maret.


Investor semakin fokus pada pertemuan Federal Reserve pada 18-19 Desember, di mana bank sentral AS secara luas diperkirakan akan menaikkan suku bunga. Pendapat dari Gubernur Bank Sentral AS Jerome Powell akan menjadi sorotan utama. Pelaku pasar menantikan isyarat yang bisa ditangkap dari pernyataan tersebut. Baik isyarat yang memunculkan sikap hawkish atau pula dovish, terkait rencana kenaikan suku bunga dimasa depan. Isyarat tersebut bisa menjadi sumber perlambatan kenaikan di masa depan, dan memicu reli Santa yang sangat diantisipasi pelaku pasar.


Sementara itu, Perdana Menteri Inggris Theresa May menegaskan kembali keputusannya untuk menunda pemungutan suara terkait Brexit di Parlemen . Hal ini justru berpotensi menambah komplikasi lain dari proses Brexit yang damai.

Sentimen pasar akan diwarnai dengan ketidakstabilan yang lebih tinggi dan rentang perdagangan intraday dan intraweek yang lebih luas. Ada kemungkinan besar setara dalam perdagangan selanjutnya. Momentum perdagangan dapat berubah tanpa alasan yang mudah didefinisikan. Beberapa saham teknologi utama bisa menangkap tawaran ini dan itu membantu menggenjot Nasdaq bangkit dari posisi terendah.


Mengingat sentimen pasar pada minggu lalu banyak bernada positif, kabar gencatan senjata dimana ada penundaan pengenaan tariff sebesar 25% pada 1 Januari 2019, mengembirakan pasar. Ada momentum dimana bangunan kepercayaan sedang dilakukan menuju kesepakatan perdagangan.


Sementara itu, indikator ekonomi AS menunjukkan bahwa angka laporan pekerjaan tetap padat tetapi tidak terlalu panas, dimana indek ISM Manufacturing PMI cukup kuat. Menariknya adalah pandangan the Fed yang nampak bergeser semakin banyak dovish. (Lukman Hqeem)