Bursa saham AS berakhir turun setelah sejumlah data ekonomi terkini mengecewakan pasar. (Lukman Hqeem/Foto Istimewa).

Esandar Arthamas Berjangka merupakan pialang resmi yang terdaftar di BAPPEBTI. Anggota dari Bursa Berjangka Jakarta dan Kliring Berjangka Indonesia.

ESANDAR, Jakarta – Bursa saham AS harus berakhir dengan kekecewaan dalam perdagangan hari Rabu (24/10). Data ekonomi yang kurang mengembirakan membuat investor makin getol melepaskan posisi. Indek Dow Jones anjlok 2,41%, Indek S&P 500 turun 3,09%, Indek Nasdaq turun 4,63%. Dalam kinerja tahunan, DJIA melemah 0,55% dan S&P 500 turun 0,79%. Hanya Nasdaq yang masih menguat 6,14%.


Investor kecewa dengan data ekonomi terkini, yang mengindikasikan perlambatan ekonomi AS. Data terkini menunjukkan adalan penjualan rumah baru hanya sebesar 553.000 unit pada September, turun 5,5% secara year-on-year sekaligus menjadi yang terendah sejak Desember 2016.


Sementara kebijakan The Fed yang hawkish, mulai memakan korban. Sejak awal tahun, The Fed telah menaikkan suku bunga tiga. Bahkan kemungkinan besar akan dilakukan sekali lagi pada bulan Desember. Kenaikan suku bunga acuan, mendongkrak bunga kredit termasuk kredit perumahan. Alhasil suku bunga kredit perumahan untuk tenor 30 tahun kini rata-rata adalah 4,85%. Menurut perusahaan pembiayaan perumahan Freddie Mac, naik 80 basis poin (bps) dibandingkan tahun lalu.


Laporan kajian The Fed dalam Beige Book menyebutkan dunia usaha mulai menaikkan harga akibat perang dagang AS – China. Tingginya bea masuk untuk import bahan baku dan barang modal asal China membuat dunia usaha tidak bisa menahan untuk tidak menaikkan harga.


Dalam laporan tersebut, disebutkan bahwa pabrikan telah menaikkan harga-harga barang. Kenaikan ini disebabkan naiknya biaya impor bahan baku seperti baja. Meski demikian, The Fed menegaskan bahwa sejauh ini belum ada tekanan inflasi yang berarti. The Fed masih melihat inflasi tidak jauh dari target di kisaran 2%. Dengan kata lain, meski harga naik namun masih dalam tingkatan yang moderat.


Risalah tersebut juga menyebutkan bahwa dunia usaha AS belum mengalami tekanan signifikan. Ini dibuktikan dari pasar tenaga kerja yang masih ketat, belum ada gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Bahkan sebagian perusahaan masih kesulitan mencari karyawan, terutama untuk beberapa posisi seperti ahli mesin, ahli keuangan dan penjualan, pekerja konstruksi, sampai sopir truk. Pun demikian, pelaku pasar melihat dunia usaha mulai terbeban akibat perang dagang. Ke depan, beban ini akan semakin berat apabila tidak ada penyelesaian terhadap konflik Washington-Beijing.