Bursa saham AS jatuh, kepanikan melanda aksi jual.

Esandar Arthamas Berjangka merupakan pialang resmi yang terdaftar di BAPPEBTI. Anggota dari Bursa Berjangka Jakarta dan Kliring Berjangka Indonesia.

ESANDAR, Jakarta – Bursa saham AS rontok dalam perdagangan diakhir pekan, Jumat (14/12). Menempatkan perdagangan dalam sepekan dalam catatan lemah. Mengirimkan Indek Dow Jones keposisi koreksi dalam kinerja setahun.


Data ekonomi China menjadi pemukul keras dalam perdagangn kali ini. Berbuntut kepada kabar dari Eropa yang kembali memunculkan kekhawatiran kesehatan ekonominya, pada akhirnya merembet pada perekonomian global.


Indek Dow Jones turun fell 496.87 poin, atau 2%, berakhir di 24,100.51, terendah sejak 3 Mei silam. Indek S&P 500 terpangkas 50.59 poin, atau 1.9%, berakhir di 2,599.95, terendah sejak 2 April. Indek Nasdaq merosot 58.59 poin, atau 0.8%, berakhir di 6,910.66, terendah sejak 20 Novermber kemarin.


Dalam catatan lain, Indek Dow Jones telah turun lebih dari 10% dibawah posisi sebelumnya pada 3 Oktober silam, yang merupakan posisi tertingginya. Ini menjadi penanda Dow Jones telah menjejakkan kaki di zona koreksi. Indek saham unggulan ini bergabung dengan dua saudranya yang telah dulu berenang di zona ini.


Sebelumnya, bursa saham Asia telah lebih dulu merasakan hantaman China. Terdesak dalam dimana Indek Hang Seng harus merosot sebesar 1.6%. Saham Tencent menjadi pemimpin penurunan ini dengan anjlok 3.1% bersama dengan China Mobile turun hingga 3.2%.


Diperkuat dengan jatuhnya saham China Unicom yang jatuh 1.8%. Saham-saham sektor farmasi berada di bawah tekanan jual, meskipun pemerintah Cina tengah meneliti aplikasi klinis untuk obat anti tumor baru dimulai pada tahun depan.


Bursa saham Tokyo juga dilanda gelobang aksi jual setelah mengalami reli dalam dua hari sebelumnya. Indek Nikkei turun 2.02% dengan volume penjualan tercatat melebihi volume pembelian di awal perdagangan Jumat lalu.


Pasar lesu oleh berkurangnya insentif pembelian baru dari para investor. Pasar mempercepat penurunannya pasca dirilisnya data penjualan ritel Cina serta data dari sektor industri di bulan November yang lebih lemah dibandingkan perkiraan sebelumnya.


Selain itu hasil survei sentimen bisnis Tankan dari BoJ untuk periode kuartalan, dirilis dengan hasil yang lemah untuk bulan Desember ini, sehingga memberikan cerminan semakin besarnya kekhawatiran terhadap friksi perdagangan AS-Cina.


Sentimen domestik juga berperan dalam jatuhnya Bursa Seoul. Data Bank of Korea, menyatakan bahwa deposito mata uang asing di Korea Selatan mencapai $75.05 milliar pada akhir November atau mencatat kenaikan sebesar $6.94 milliar dibanding bulan sebelumnya.


Indek KOSPI turun 1.76%. Para investor melepas saham produsen semikonduktor di tengah ekspetasi bahwa industri chip memasuki fase koreksinya. (Lukman Hqeem)