Lebih dari satu dekade menjadi jurnalis ekonomi dan gaya hidup, khususnya pasar modal, komoditi dan mata uang. Menyukai travelling disaat liburan atau mengatur koleksi filateli.

ESANDAR, Jakarta – Biro Pusat Statistik Australia pada Jumat (03/11/2017) mengumumkan angka penjualan ritel Australia.

Menurut laporan tersebut, penjualan ritel naik 0.1% di kuartal ketiga dari kuartal kedua. Sementara penjualan untuk bulan Agustus direvisi naik sedikit ke penurunan 0.5% dari penurunan 0.6% ketika angka tersebut pertama kali dirilis. Penjualan ritel Australia tetap datar pada bulan September dari bulan sebelumnya, mengecewakan ekonom yang memperkirakan kenaikan 0.4%.

Angka ini menandai hasil yang lebih lemah untuk ketiga kalinya berturut-turut dari perkiraan dalam satu baris, memicu kekhawatiran seputar kontribusi belanja konsumen terhadap PDB pada kuartal ketiga. Penurunan terbesar pada bulan September berada di kategori barang-barang rumah tangga dan pakaian kerja, sementara penjualan makanan dan penjualan restoran meningkat seiring dengan penjualan department store.

Penjualan ritel telah melemah tajam dalam beberapa bulan terakhir, yang memicu kekhawatiran bahwa tingkat hutang rumah tangga yang meningkat dan pertumbuhan upah rata-rata yang panjang telah mengakibatkan konsumen mengalami pukulan keras. Perlambatan tersebut bertepatan dengan kenaikan biaya utilitas yang besar, dengan beberapa ekonom memperkirakan pengeluaran akan sedikit menambah pertumbuhan PDB pada kuartal ketiga. Namun, pasar tenaga kerja telah tumbuh kuat, memberikan kepastian kepada konsumen seputar keuangan mereka.

Bagi Reserve Bank of Australia, itu berarti suku bunga akan tetap bertahan lebih lama. Pasar saat ini bertaruh langkah selanjutnya dalam suku bunga akan naik pada akhir 2018. Sebuah pertemuan kebijakan pada hari Selasa mendatang diperkirakan akan melihat suku bunga yang dipegang pada rekor terendah 1.5% untuk bulan kelima belas berturut-turut. (Lukman Hqeem)