Hubungan Harga Emas dan Saham

Lebih dari satu dekade menjadi jurnalis ekonomi dan gaya hidup, khususnya pasar modal, komoditi dan mata uang. Menyukai travelling disaat liburan atau mengatur koleksi filateli.

ESANDAR, Jakarta – Hubungan Harga Emas dan Bursa Saham, biasanya bertolak belakang. Investor cenderung berani membeli saham-saham yang berujung kenaikan indek bursa meski menanggung resiko lebih tinggi, risk appetite. Sebaliknya, saat investor merasa tidak aman, dia akan melakukan hedging  dengan membeli asset pengaman, safe haven – seperti emas.

Dengan demikian, lazimnya harga emas akan terlempar manakala bursa saham sedang bersinar terang. Indek saham naik, berbanding terbalik dengan harga emas, terseok. Faktanya, dalam dua tahun terakhir, harga emas naik seiring dengan kenaikan indek saham.

Harga emas pada perdagangan hari Rabu  (24/01/2018) bergerak naik ke tingkat tertinggi dalam lebih dari satu tahun. Pernyataan Menteri Keuangan AS, Steven Mnuchin yang mendukung Dolar AS lemah, menjadi roket pendorong naiknya harga emas. Menurut Mnuchin, “melemahnya dolar bagus untuk perdagangan”. Alhasil Dolar AS terseok hingga ke posisi terlemahnya dalam tiga tahun dan menguatkan harga logam kuning.

Indek Dolar AS turun 1% menjadi 89.244, menembus di bawah 90 untuk pertama kalinya sejak Desember 2014. Emas, yang dihargai dalam dolar, sering diperdagangkan berbanding terbalik dengan dolar, karena pergerakan di unit AS dapat mempengaruhi daya tarik logam mulia tersebut bagi pemegang mata uang lainnya. Harga emas naik $ 19,60, atau 1,5%, bertahan di $ 1,356.30 per troy ons. Harga tertinggi sejak 18 Agustus 2016. Kini harga emas diperdagangkan pada kisaran $1363 dan sempat naik hingga ke $1.364.

Dari semua kombinasi fundamental pasar yang dapat membuktikan mendukung harga emas, tidak ada yang lebih kuat daripada dolar AS yang merosot di tengah kekhawatiran terhadap posisi fiskal A.S. yang memburuk. Saat ini sepenuhnya adalah surga untuk emas.

Hubungan antara Obligasi dan harga emas juga menarik. Secara tradisional adalah Obligasi dengan imbal hasil yang lebih tinggi akan menumpulkan daya tarik logam mulia yang tidak memiliki keuntungan akibat bunga atau imbal hasil. Dengan demikian, bila imbal hasil obligasi menurun, harga logam mulia cenderung naik.

Fakta bahwa harga emas naik 22,77% selama dua tahun terakhir telah meningkat bersamaan dengan kenaikan indek saham S&P 500 sebesar 36,38%. Secara logis, fenonenan ini akan menghilangkan gagasan kinerja invers refleksif antar keduanya.

Telah lama diperingatkan terhadap keyakinan yang keliru bahwa kenaikan suku bunga dalam jangka pendek secara inheren bisa mengancam prospek harga logam mulia. Kenaikan suku bunga kurang relevan dengan kinerja harga emas daripada alasan mengapa suku bunga naik, mengingat ekspektasi pertumbuhan yang lebih kuat, ditambah dengan penilaian investor apakah Fed cukup mengendalikan tantangan moneter global.

Mnuchin juga mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi yang diharapkan akan mendukung dolar dalam jangka panjang. Dengan pernyataan ini, setidaknya harga emas dalam jangka pendek masih akan menguat kembali.

Kesempatan terbaik bagi Dolar AS untuk menguat kembali mungkin setelah 8 Februari, ketika pemerintah A.S. diperkirakan kehabisan uang tunai lagi. Begitu anggaran akhirnya berlalu maka tren penurunan dolar mungkin sulit. Tapi untuk saat ini, pelemahan dolar diyakini masih akan terus berlanjut membantu mendukung emas berdenominasi dolar.

Sementara itu, Dewan Emas Dunia (World Gold Council ) sedang mempelajari pembuatan standar global untuk emas dalam satuan kilobars sehingga bisa digunakan sebagai jaminan di pasar berjangka dan berpotensi mendorong permintaan. Sayangnya, Kilobars atau 1 kilogram batangan emas hanya mendominasi perdagangan Asia namun kurangnya transparansi tentang asal usul mereka dan tidak adanya standar global telah membatasi penggunaan pertukaran di lain tempat. (Lukman Hqeem)