Emas

Esandar Arthamas Berjangka merupakan pialang resmi yang terdaftar di BAPPEBTI. Anggota dari Bursa Berjangka Jakarta dan Kliring Berjangka Indonesia.

ESANDAR, Jakarta – Harga emas diperdagangan berjangka akhirnya ditutup pada posisi tertinggi baru dalam enam tahun terakhir ini pada Kamis (19/07/2019). Bahkan harga masih naik paska penutupan dengan memperpanjang kenaikan dalam sesi perdagangan elektronik. Dorongan kenaikan harga bersumber dari beberapa sentiment fundamental berupa komentar yang bernada dovish dari pejabat tinggi Federal Reserve, memburuknya ketegangan di Timur Tengah dan penurunan dolar.

Aura dovish yang kian terasa dari The Federal Reserve (The Fed) selaku bank sentral AS sukses memantik kenaikan harga emas. Terlebih setelah John Williams selaku Gubernur Bank Sentral AS wilayah New York mengatakan bahwa The Fed perlu untuk “bertindak cepat” di tengah pelemahan ekonomi yang saat ini tengah terjadi, dilansir dari CNBC International. “Lebih baik untuk mengambil langkah pencegahan ketimbang menunggu datangnya bencana,” kata Williams.

Komentar dari Williams tersebut lantas melengkapi pernyataan-pernyataan dovish yang sebelumnya diutarakan oleh Jerome Powell selaku Gubernur The Fed. Pada pekan lalu, Powell memberikan testimoni terkait dengan laporan kebijakan moneter semi tahunan di hadapan para anggota kongres AS. Pesimisnya Powell dalam melihat kondisi perekonomian di masa depan dibuktikan dengan pengulangan kata ‘ketidakpastian’ yang begitu sering. CNBC International mencatat bahwa dalam testimoninya di hadapan anggota kongres, setidaknya 26 kali kata ‘ketidakpastian’ diucapkan oleh suksesor dari Janet Yellen itu. ‘Ketidakpastian’ yang diucapkan Powell mengacu kepada berbagai macam hal, seperti prospek perekonomian AS, rendahnya tekanan inflasi, perang dagang AS-China, hingga konsumsi rumah tangga.

Banyak anggota FOMC sebelumnya melihat adanya urgensi untuk mengadopsi kebijakan moneter yang lebih akomodatif telah meningkat. Sejak saat itu, berdasarkan data yang dirilis dan berbagai perkembangan lainnya, nampak bahwa ketidakpastian terkait perang dagang dan kekhawatiran mengenai laju perekonomian dunia telah terus membebani prospek perekonomian AS,” demikian satu dari sedikit pernyataan Powell yang mengandung kata ketidakpastian.

Di satu sisi, pengulangan kata ‘ketidakpastian’ yang begitu sering menunjukkan bahwa laju perekonomian dan prospek ekonomi dunia benar-benar sedang lesu. Namun di sisi lain, terlihat jelas bahwa Powell memberi sinyal yang kuat terkait dengan pemangkasan tingkat suku bunga acuan secara agresif.

Kini, pernyataan dari Powell dan Williams sukses membuat optimisme terkait pemangkasan tingkat suku bunga acuan sebesar 50 bps pada pertemuan The Fed bulan ini membuncah. Mengutip situs resmi CME Group yang merupakan pengelola bursa derivatif terkemuka di dunia, berdasarkan harga kontrak fed fund futures per 18 Juli 2019, probabilitas bahwa The Fed akan memangkas tingkat suku bunga acuan sebesar 50 bps pada pertemuan bulan ini berada di level 46,2%, jauh lebih tinggi ketimbang posisi minggu lalu yang sebesar 19,9%. Probabilitas pemangkasan suku bunga acuan 25 bps berada di level 53,8%, turun jauh dari posisi minggu lalu yang sebesar 80,1%.

Pemangkasan tingkat suku bunga acuan menjadi sangat krusial guna menghindarkan perekonomian AS dari hard landing. Ketika laju perekonomian AS bisa didorong di level yang tinggi, perekonomian dari negara-negara lain akan bisa dipacu untuk melaju di level yang tinggi juga. Maklum, AS merupakan negara dengan nilai perekonomian terbesar di planet bumi.

Sentimen fundamental kedua adalah berita Angkatan Laut AS telah menembak jatuh sebuah Drone Iran. Kabar ini menambah bahan bakar ke pasar, yang sedang marak terjadi dengan aksi beli setelah harga mampu menembus $ 1.425.

Harga emas untuk kontrak pengiriman bulan Agustus naik ke $ 1,452 per troy ons. Sebelumnya, harga naik $ 4,80, atau 0,3%, ke $ 1,428.10 per troy ons setelah naik 0,9% di hari Rabu. Dengan harga saat ini, emas berada di posisi tertinggi untuk kontrak paling aktif sejak 13 Mei 2013.

Kenaikan harga emas kali ini ditengah pesimisme pasar ketika harga mengalami kejenuhan beli. Meski jenuh, harga mampu mencuri kesempatan untuk melanjutkan penguatan karena jatuhnya imbal hasil obligasi pemerintah dan berbaliknya dolar dan saham baru-baru ini.

Sebagaimana dalam perdagangan sebelumnya di hari Rabu, harga naik paska penutupan perdagangan setekah rilis laporan Beige Book dari Bank Sentral AS. Dalam laporan tersebut, tersirat adanya kekhawatiran dari bank sentral AS pada dampak negatif perang dagang yang berkepanjangan. Laporan tersebut menunjukkan pertumbuhan ekonomi AS yang “sederhana” dan laju inflasi yang stabil dengan kecenderungan turun.

Dengan demikian, tidak ada dalam laporan yang tampaknya merupakan rencana Fed untuk penurunan suku bunga pada pertemuan mendatang mereka. Ini akan menjadi akhir dramatis The Fed dari elang ke sikap yang lebih lunak dan akan sangat mendukung harga emas yang lebih tinggi. Namun demikian, pelaku pasar tetap perlu berhati-hati dan siap sedia jika The Fed tidak jadi memangkas suku bunganya pada akhir bulan Juli ini.

Indek Dolar AS sendiri turun hampir 0,1% ke 97,132, setelah penutupan perdagangan emas berjangka bahkan turun lagi menjadi 96,704. Imbal hasil Obligasi AS tenor 10-tahun bergerak untuk menghasilkan 2,0254% pada penutupan pasar saham. Keduanya diperdagangkan lebih rendah pada hari Rabu. Imbal hasil obligasi yang memudar dan dolar yang lebih lemah cenderung mendorong harga emas naik.

Ray Dalio, pendiri Bridgewater Associates menyatakan bahwa lingkungan kebijakan bank sentral yang longgar dan suku bunga negatif di banyak negara maju menjadi latar belakang bagi kenaikan harga emas saat ini. Ia menambahkan bahwa untuk mengurangi risiko dan meningkatkan pengembalian investasi, Dalio menyarankan agar investor menambahkan “logam kuning kedalam ” diversifikasi portofolio.” Pernyataan Dalio yang demikian ini menjadi bantuan bagi harga emas untuk bergerak lebih tinggi.

Pernyataan Dalio ini mendapat komentar dari Hussein Sayed , kepala strategi pasar FXTM, menurutnya investor perlu melakukan diversifikasi aset, untuk memberikan hasil yang lebih baik, pada satu titik itu mungkin merupakan diversifikasi portofolio yang diperlukan, terutama ketika obligasi negara maju tidak memberikan pengembalian yang wajar. (Lukman Hqeem)