Bitcoin

Lebih dari satu dekade menjadi jurnalis ekonomi dan gaya hidup, khususnya pasar modal, komoditi dan mata uang. Menyukai travelling disaat liburan atau mengatur koleksi filateli.

ESANDAR, Jakarta – Bitcoin, sebagai acuan pergerakan mata uang kripto lainnya, mencoba untuk bangkit dari keterpurukannya. Sayangnya, kebangkitan saat ini masih jauh dari harga tertingginya yang dicapai pada Desember kemarin.

Pada perdagangan hari Rabu, Harga Bitcoin (BTCUSD) naik 7% menjadi $ 8,130 menurut data CoinDesk. Bahkan sempat naik setinggi $ 8.583. Meski naik, posisi ini masih jauh dari harga tertingginya di atas $ 19.000 pada bulan Desember. Sementara dalam perdagangan berjangka, nilai Bitcoin berjangka (XBTG8) di Cboe naik $ 685, atau 9%, berakhir di $ 8,265.

Pada hari Selasa, mata uang virtual ini telah turun di bawah $ 6.000, level terendah yang terakhir terlihat pada pertengahan November namun kemudian menguat karena bursa saham A.S. juga menguat kembali. Sayangnya, peluang turun kembali masih terbuka lebar. Baru-baru ini analis Goldman Sachs menyatakan bahwa uang kripto ini bisa turun menjadi nol.

Hal yang patut digarisbawahi adalah perilaku pergerakan harga BTC saat ini yang seiring dengan pergerakan bursa saham AS. Kajian yang dilakukan pada pergerakan Bitcoin (BTCUSD) dengan Indek S&P 500 menunjukkan keselarasan pergerakan. Tentu saja jika ini berkelanjutan, maka peran Bitcoin sebagai tujuan investasi yang lebih beragam bisa gagal.

Saat ini, korelasi 30 hari di antara indek S&P 500 dan bitcoin mencapai sekitar 0,3, menurut data yang diberikan oleh bank investasi. Pembacaan 1,0 akan mewakili korelasi sempurna, sementara -1,0 akan menunjukkan korelasi terbalik yang sempurna. Pembacaan nol tidak mewakili korelasi sama sekali.

Tingkat korelasi antara saham dan mata uang digital terbesar di dunia telah sangat fluktuatif. Ini mencapai titik terendah baru-baru sekitar -0,15 di bulan November, dan sebagian besar meningkat sejak saat itu. Awal tahun ini, korelasi berdiri di nol sebelum menembak ke atas. Kenaikan tersebut bertepatan dengan bitcoin yang sangat tidak stabil yang jatuh dari puncaknya pada bulan Desember dan – baru-baru ini – saham, yang secara historis sepi dalam beberapa bulan terakhir, mundur dari rekor tertinggi mereka.

Dalam sebuah catatan kepada klien-kliennya, Morgan Stanley menulis bahwa korelasi bitcoin dengan pasar yang lebih luas pada kenyataannya meningkat. Namun tingkat korelasi saat ini masih berada di bawah periode sebelumnya dalam 14 bulan terakhir. Mengacu pada bagaimana korelasi tersebut menyentuh 0,35 Juni lalu, Morgan Stanley menilai keseluruhan tren selama periode tersebut secara jelas menunjukkan korelasi Bitcoin dengan pasar saham yang lebih luas, namun belum sepenuhnya terbentuk dalam data.

Disisi lain, Bank investasi berspekulasi bahwa pelembagaan pasar bitcoin terus meningkat. Diambil contoh, dengan meningkatnya jumlah dana lindung nilai yang didedikasikan untuk kriptocurrency. Hal ini telah membuka jalan menuju peningkatan korelasi,  karena tidak ada lagi investor ritel kecil yang melakukan tindakan tersebut.

Ide perlindungan investasi yang demikian ini adalah karena investor institusi ingin mencari tingkat risiko atau pengembalian yang lebih tinggi. Fakta bahwa bitcoin mungkin merupakan aset dengan pengembalian paling berisiko atau pula berpotensi tertinggi yang ada. Oleh karenanya tak heran bila BTC dapat berkembang dengan cepat menjadi indikator utama untuk pasar keuangan meskipun dengan risiko yang lebih luas.

Seperti yang disinggung, bahwa jika korelasi antara BTC dan saham tetap tinggi, hal itu bisa mengurangi salah satu poin utama penjualan bitcoin. Morgan Stanley berpendapat bahwa salah satu keuntungan BTC yang disebutkan secara historis sebagai investasi adalah hampir tidak berkorelasi dengan pasar keuangan lainnya. Hal yang kini memerlukan pembuktian Bitcoin dan mata uang kripto lainnya. (Lukman Hqeem)