Dolar AS menguat atas mata uang lainnya, meski akhirnya terbatasi oleh sentimen domestik.

Lebih dari satu dekade menjadi jurnalis ekonomi dan gaya hidup, khususnya pasar modal, komoditi dan mata uang. Menyukai travelling disaat liburan atau mengatur koleksi filateli.

ESANDAR – Dolar AS diakhir pekan, pada Jumat (01/11/2019) berusaha menguat setelah data ekonomi AS menyebutkan bahwa pertumbuhan lapangan kerja AS hanya melambat, namun lebih baik dari perkiraan untuk bulan Oktober ini. Tingkat upah bahkan mengalami kenaikan dan rekrutmen menguat dalam dua bulan terakhir dari perkiraan awal.

Namun mata uang AS ini gagal mempertahankan kenaikannya dan melemah lebih jauh setelah Institute for Supply Management (ISM) mengatakan sektor manufaktur mengalami kontraksi untuk bulan ketiga berturut-turut pada bulan Oktober.

Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan bahwa Nonfarm payrolls meningkat 128.000 pekerjaan bulan lalu, sementara pendapatan rata-rata per jam meningkat enam sen, atau 0,2% setelah tidak berubah pada bulan September. Para pekerja yang mogok dan tidak menerima gaji selama periode survei penggajian dihitung sebagai pengangguran. Pemogokan oleh sekitar 46.000 pekerja di pabrik GM di Michigan dan Kentucky berakhir Jumat lalu. Petugas sensus sementara juga meninggalkan pekerjaan mereka selama bulan itu.

Euro mempertahankan kenaikannya terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada hari Jumat karena para investor menjual mata uang AS, memprediksi negara itu akan segera masuk ke dalam perlambatan ekonomi global. Dolar AS dan yen Jepang, keduanya dipandang sebagai investasi safe haven, menguat setiap kali AS menemui jalan buntu dalam sengketa perdagangannya dengan Cina.

Tetapi dolar AS kehilangan status itu, setelah data ekonomi AS memburuk. Para investor tidak yakin kepada Federal Reserve yang masih optimistis terhadap prospek ekonomi karena risiko yang ditimbulkan oleh perang perdagangan, yang berkontribusi terhadap penurunan dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah AS. The Fed memangkas suku bunga minggu lalu untuk ketiga kalinya tahun ini, tetapi mengindikasikan pemotongan lebih lanjut tidak mungkin terjadi, mengutip kantong kekuatan di ekonomi AS.

Dolar AS sempat melemah terhadap yen namun akhirnya berhasil menguat. Pasangan USDJPY sempat jatuh ke titik terendah dalam tiga minggu terakhir, setelah Bloomberg melaporkan bahwa para pejabat Cina memiliki keraguan tentang mencapai solusi komprehensif untuk perang perdagangan AS-Sino.

Dalam perdagangan EURUSD, Euro menutup sesi perdagangan Jumat di 1.1169 atau lebih tinggi 0,15% dari penutupan sesi Kamis. Untuk basis mingguan, pair ini berakhir 0,8% lebih tinggi dari penutupan pekan sebelumnya. GBPUSD berakhir di 1.2942 pada saat sesi perdagangan Jumat ditutup tidak berubah dari penutupan sesi Kamis. Untuk basis mingguan, pair ini berakhir 0,89% lebih tinggi dari penutupan pekan sebelumnya.

Aussie sendiri dalam perdagangan AUDUSD menutup sesi perdagangan Jumat di 0.6911 atau lebih tinggi 0,28% dari penutupan sesi Kamis. Untuk basis mingguan, pair ini berakhir 1,32% lebih tinggi dari penutupan pekan sebelumnya. AUDUSD sedang di fase konsolidasi setelah pekan lalu melesat ke 0.6928. Konsolidasi ini masih dapat terjadi hari ini dengan kisaran potensial 0.6881 – 0.6921.

USDJPY mengakhiri sesi perdagangan Jumat di 108.15 atau lebih tinggi 0,13% dari penutupan sesi Kamis. Untuk basis mingguan, pair ini berakhir -0,46% lebih rendah dari penutupan pekan sebelumnya. Meski terjadi rebound, hingga Senin pagi USDJPY terlihat memiliki potensi untuk mempertahankan momentum bearish dengan posisinya yang masih berada di bawah zona resistance 108.23.