Emas

Lebih dari satu dekade menjadi jurnalis ekonomi dan gaya hidup, khususnya pasar modal, komoditi dan mata uang. Menyukai travelling disaat liburan atau mengatur koleksi filateli.

ESANDAR, Jakarta – Harga emas menguat tajam dalam perdagangan di hari Selasa (02/07/2019), dimana emas mampu menutup sebagian besar kerugian yang diderita dari perdagangan sehari sebelumnya. Tercatat sebagai penurunan paling tajam dalam satu sesi perdagangan selama satu tahun terakhir.

Dorongan kenaikan bersumber dari melemahnya Dolar AS kembali dan kerugian yang diderita di bursa saham AS. Secara teknis, paska kejatuhan yang dalam, akan diikuti dengan aksi beli kembali setelah harga emas dianggap mencapai posisi titik jenuh jualnya.

Momentum aksi beli kembali adalah munculnya kekhawatiran akan perlambatan ekonomi global. Awalnya, gencatan perang dagang memicu kenaikan di pasar saham dengan harapan kesepakatan perdagangan dapat terselesaikan dengan segera. Namun kembali pasar merasa ada ketidakpastian dalam kesepakatan ini, sebagaimana yang sudah-sudah. Investor mencari tempat berlindung yang lebih aman, pilihannya jatuh kepada Emas.

Harga emas untuk kontrak pengiriman bulan Agustus naik $ 18,70, atau 1,4%, ke $ 1,408 per troy ons. Logam mulia sempat turun sebesar $ 24,40, atau 1,7%, pada hari Senin, setelah dolar naik tajam. Ini merupakan persentase penurunan terbesar untuk kontrak berjangka paling aktif sejak Juni 2018.

Sebagaimana diperkirakan sebelumnya, bahwa kisaran perdagangan emas masih dalam bentang $1350 – 1450 per troy ons. Aksi jual yang besar-besaran menekan harga emas hingga ke kisaran $1385 baru-baru ini. Hal ini membuka peluang aksi beli kembali dan mendorong harga emas bangkit kembali menembus kisaran tengah di $1400 dan melaju hingga mencoba untuk memecahkan batas resistensi selanjutnya, $1450.

Dalam jangka panjang, emas masih bereaksi terhadap inflasi yang akan datang. Sebagian besar negara khawatir tentang perlambatan global, dan tingkat yang lebih rendah terus berlanjut di setidaknya 22 negara. Semua ini berarti sebagian besar bank sentral mendukung pelonggaran yang berkelanjutan juga.

Indek Dolar AS, turun 0,2% di 96,681, membuat harga komoditas dalam logam lebih menarik bagi pembeli yang menggunakan mata uang lainnya. Logam mulia juga mendapat dorongan naik karena imbal hasil utang turun kembali. Sementara itu, Reserve Bank of Australia (RBA) memutuskan untuk memangkas suku bunga acuan untuk kedua kalinya dalam waktu kurang dari 30 hari. Langkah ini ditempuh guna memerangi tanda-tanda pertumbuhan ekonomi yang lamban di Australia, sebagai dampak melemahnya ekonomi China, mitar dagang utama Australia.

Imbal hasil Obligasi AS tenor 10 Tahun menghasilkan 1,978%, meluncur turun dari level Senin. Harga yang lebih rendah dapat mendukung permintaan emas yang tidak menawarkan hasil.

Sementara Aset berisiko menerima dorongan moderat setelah Presiden Donald Trump dan pemimpin China Xi Jinping mencapai kesepakatan sementara pada pertemuan G-20 di Jepang. Jeda sengketa dagang diantara ekonomi terbesar di dunia ini telah mengurangi minat aset yang dianggap aman. (Lukman Hqeem)