Dibawah tekanan, baik Euro dan Poundsterling berpotensi membalas terhadap Dolar AS. (Foto Istimewa)

Lebih dari satu dekade menjadi jurnalis ekonomi dan gaya hidup, khususnya pasar modal, komoditi dan mata uang. Menyukai travelling disaat liburan atau mengatur koleksi filateli.

ESANDAR, Jakarta – Euro melemah terhadap dolar AS pada perdagangan di hari Selasa (15/05/2019) setelah wakil perdana menteri Italia mengatakan, negaranya siap untuk melanggar aturan anggaran Uni Eropa guna memacu sektor pekerjaan, jika diperlukan. Kekhawatiran pelaku pasar akan sikap Italia yang siap menentang aturan Uni Eropa ini menjadi alasan kuat menghukum Euro.

Wakil Perdana Menteri Italia, Matteo Salvini mengatakan bahwa , jika perlu kita, melanggar beberapa batasan, seperti 3% besaran rasio defisit terhadap PDB atau besaran rasio 130-140% terhadap PDB, kami siap untuk terus maju. Sampai kita tiba pada tingkat pengangguran sebesar 5%, kami akan menggunakan semua yang kami miliki, dan jika seseorang di Brussels mengeluh, itu tidak akan menjadi perhatian kami, tegas Matteo.

Disisi lain, Dolar AS juga menguat setelah pejabat AS dan China mengatakan kedua negara akan terus bernegosiasi tentang sengketa perdagangan. Presiden AS Donald Trump pada hari Selasa membela strategi perang dagangnya dengan China ketika ketegangan terus meningkat dan pasar keuangan memperpanjang kerugiannya. Trump menjanjikan kesepakatan dengan Presiden China Xi Jinping segera, bahkan ketika kekhawatiran semakin meningkat tentang berlarutnya pertempuran dagang dua raksasa ekonomi dunia tersebut.

Ketidakpastian masih berlanjut atas sebarapa lama perjanjian antara dua negara tersebut dapat tercapai. Kondisi yang tidak menentu ini membuat Dolar AS, Yen Jepang dan Emas menjadi incaran pasar sebagai upaya melakukan lindung nilai.

Awalnya, pasar merasa optimis dengan perundingan dagang AS – China di Washington. Alih-alih langsung menghasilkan kesepakatan yang nyata, justru kondisi pasar makin memburuk. Pasalnya, ditengah upaya perundingan ini, AS memutuskan untuk menaikkan tariff impor barang-barang China. Beijing tidak tinggal diam, dengan membalas akan menaikkan tariff per 1 Juni mendatang.  Tentu saja kondisi ini diluar perkiraan sebelumnya.

Selanjutnya, para investor fokus pada apakah Trump akan mengenakan tarif pada mobil impor dan suku cadang mobil saat pembicaraan berlanjut dengan Uni Eropa dan Jepang. Trump menerima laporan investigasi “Section 232” pada bulan Februari, diyakini secara luas telah menyimpulkan bahwa impor suku cadang mobil dan mobil berisiko bagi keamanan nasional. Presiden AS menetapkan periode musyawarah 90-hari dengan semua pihak itu akan berakhir pada hari Sabtu.

Pada perdagangan lainnya, Poundsterling merosot ke posisi terendah selama dua minggu ini karena data ketenagakerjaan Inggris menunjukkan pertumbuhan upah pada kuartal pertama lebih rendah dari yang diharapkan, menandakan kemungkinan dimulainya periode yang bergejolak untuk ekonomi yang lebih luas.

Mata uang Inggris tersebut juga terbebani oleh kekhawatiran tentang keluarnya Inggris dari Uni Eropa. Masalah Brexit ini menjadi gangguan dalam perdagangan GBPUSD selamam beberapa waktu terakhir ini. Partai Buruh selaku oposisi pemerintah pada hari Selasa mengatakan bahwa Perdana Menteri Theresa May belum melakukan perubahan. Mereka merasa khawatir di masa depan seorang pemimpin Konservatif mungkin bakal mengingkari janji yang disampaikan oleh pemerintah. (Lukman Hqeem)