Emas

Lebih dari satu dekade menjadi jurnalis ekonomi dan gaya hidup, khususnya pasar modal, komoditi dan mata uang. Menyukai travelling disaat liburan atau mengatur koleksi filateli.

ESANDAR, Jakarta – Harga emas naik sebesar naik 1% diujung perdagangan akhir pekan, Jumat (08/03). Sedikit kenaikan ini didorong oleh kerugian di pasar saham global karena melemahnya data ekspor China dan data pekerjaan AS.

Emas untuk kontrak pengiriman bulan April naik $ 13,20, atau 1%, menetap di harga $ 1,299.30 per troy ons. Harga bahkan sempat menembus harga piskologis $1,300 sebentar hingga ke $ 1,301.30. Setelah sepekan diperdagangkan secara bolak-balik. Dalam perdagangn minggu kemarin bahkan harga menyentuh posisi terendah di hari Selasa,  sejak akhir Januari. Dalam catatan mingguan, harga naik 10 sen.

Hasil perdagangan ini secara jelas menunjukkan bagaimana komoditas logam ini bereaksi terhadap data pekerjaan. Emas juga merespons tren penurunan pasar saham AS bersama dengan pelemahan dolar AS dihari Jumat atas seluruh mata uang utama.

Indek Dow Jones turun tajam setelah laporan ketenagakerjaan AS menunjukkan lemahnya penciptaan lapangan kerja dalam 17 bulan ini. Tercipta hanya 20.000 pada bulan Februari kemarin. Dengan angka tersebut, memberi Federal Reserve AS lebih banyak alasan untuk bersabar tentang penyesuaian suku bunga dan akan menahan bank sentral sampai setidaknya pertemuan September.

Dalam satu tahun terakhir, rata-rata AS telah menambahkan lebih dari 200.000 pekerjaan baru dalam sebulan. Banyak spekulasi bahwa angka dibulan Maret ini akan diperbaharui secara signifikan ke atas. Juga, laporan ‘internal’ menyebutkan bahwa jumlah pekerjaan sepanjang bulan ini tidak seburuk itu.

Disisi lain, bursa saham juga mengalami hari perdagangan yang buruk pula. Bursa saham China turun 4,4%, tercatat sebagai penurunan secara persentase dalam satu hari terburuk sejak Oktober silam dalam perdagangan hari Jumat. Jatuhnya pasar setelah China melaporkan terjadinya penurunan ekspor sebesar 20% dibulan Februari setelah naik 9,1% dibulan Januari.

Berita dari China ini menambah kekhawatiran tentang munculnya gangguan pertumbuhan ekonomi global. Investor masih terhuyung-huyung dengan keputusan Bank Sentral Eropa yang bersikap lebih dovish dari perkiraan. Mereka mengumumkan langkah-langkah baru untuk mendukung perekonomian  yang tengah melambat pada hari Kamis.

Diantara kebijakan mereka adalah memberikan pinjaman jangka panjang baru untuk lembaga keuangan Eropa dan memberikan janji kejutan untuk menunda kenaikan suku bunga hingga setidaknya akhir tahun. Data lain pada hari Jumat menunjukkan pesanan manufaktur Jerman turun tajam pada Januari, meskipun data Desember dinaikkan.

Pada perdagangan Euro, EURUSD jatuh ke posisi terendah dalam empat bulan ini di hari Kamis setelah ECB mengatakan suku bunga ultralow dan tidak akan naik setidaknya sampai akhir 2019. Pelemahan Euro ini menyebabkan dolar AS menguat, sayangnya indek dolar justru beringsut lebih rendah pada hari Jumat, menambah dorongan naik untuk harga emas.

Akhirnya, dengan segala ketidakpastian yang berlarut-larut dalam upaya mencapai kesepakatan perdagangan AS-China, memberikan dorongan akhir untuk kenaikan harga emas. Washington dan Beijing belum menetapkan tanggal untuk KTT berikutnya guna menyelesaikan sengketa perdagangan mereka.

Dalam perdagangan sepekan kedepan, investor perlu mempertimbangkan pelemahan angka pekerjaan dalam konteks bersama dengan data ekonomi AS lainnya seperti angka penjualan ritel yang akan dirilis pada hari Senin dan barang tahan lama pada hari Rabu.

Data inflasi dengan CPI dan PPI yang diterbitkan bersama-sama juga bisa menentukan arah pergerakan pasar selanjutnya. Ini semua merupakan bagian dari mosaik yang lebih besar atas perlambatan sejati dalam pertumbuhan ekonomi di AS. Harga emas diharapkan bisa bertahan diatas level psikologisnya di $1300 yang menandai resistensi terhadap pendakian sejauh ini. (Lukman Hqeem)