Dolar AS masih lemah atas sejumlah mata uang besar lainnya.

Lebih dari satu dekade menjadi jurnalis ekonomi dan gaya hidup, khususnya pasar modal, komoditi dan mata uang. Menyukai travelling disaat liburan atau mengatur koleksi filateli.

ESANDAR – Dolar Amerika Serikat mulai mengalami tekanan dari sejumlah mata uang lainnya setelah menguat beberapa waktu. Dalam perdagangan awal pekan ini, Senin (11/11/2019) Dolar terkoreksi setelah sejumlah investor melakukan aksi ambil untung sambil menunggu perkembangan perundingan dagang AS-Cina.

Pada akhir pekan kemarin, Presiden Donald Trump mengatakan bahwa ia belum membuat keputusan tentang penurunan tarif pada barang-barang Cina kembali.  Pernyataan Trump ini mengurangi harapan pasar untuk segera tercapainya kesepakatan perdagangan jangka panjang antara Beijing dan Washington.

Trump mengabaikan laporan kenaikan tarif sebagai bagian dari kesepakatan perdagangan Fase Satu. Trump juga mengatakan pembicaraan dengan Cina bergerak lebih lambat daripada yang diinginkannya dan Cina dalam posisi sangat ingin membuat kesepakatan.

Data ekonomi terkini dari China semakin mengangkat kekhawatiran terhadap potensi perlambatan ekonomi. Indeks Harga Konsumen (IHK) Cina tumbuh pada laju tercepat dalam sekitar delapan tahun. Sebaliknya Indek Harga Produsen (IHP) turun paling banyak dalam lebih dari tiga tahun pada Oktober. Hal ini memberikan gambaran adanya masalah dalam permintaan meski masih pada tingkat moderat.

Sementara itu dari Jepang dikabarkan bahwa tingkat pesanan mesin Jepang menurun secara tak terduga selama bulan September. Pesanan mesin inti, sebagai indikator utama investasi modal swasta, turun 2,9% dari bulan sebelumnya, menyusul penurunan 2,4 % di bulan Agustus.

Dari Jerman, Destatis mengatakan bahwa harga grosir turun pada laju tercepat dalam lebih dari tiga tahun pada Oktober. Harga grosir turun 2,3 % dari tahun ke tahun di bulan Oktober, menyusul penurunan 1,9 % di bulan September. Ini tercatat sebagai tahunan terbesar sejak Mei 2016 silam.

Greenback tertekan oleh Poundsterling, jatuh ke level terendah 6-hari di 1.2898 dalam perdagangan GBPUSD dari penutupan hari Jumat di 1.2773. Pelemahan GBPUSD terjadi setelah data dari Kantor Statistik Nasional menunjukkan bahwa ekonomi Inggris pulih pada kuartal ketiga didorong oleh sektor jasa dan konstruksi. Data Produk Domestik Bruto (PDB) Inggris tumbuh 0,3 % secara berurutan di kuartal ketiga setelah mengalami kontraksi 0,2 % di kuartal kedua.

Pada perdagangan EURUSD, Euro diperdagangkan pada 1.1033 atau naik 0,11% dari penutupan sesi Jumat. Sejauh ini penguatan EURUSD terhambat oleh level resistensi di 1.1041. Euro berusaha menembusnya meski dibayang-bayangi dengan tekanan jual saat ini.

Aussie melemah di 0.6848 atau turun 0,10% dari penutupan sesi Jumat. AUDUSD tidak memperlihatkan perubahan berarti namun sementara ini tren intraday cenderung ke selatan dengan target di support- intraday terdekat dari harga saat ini di area 0.6836.

Dalam perdagangan USDJPY berakhir di 109.03 atau lebih rendah 0,16%. USDJPY tetap di fase konsolidasi dan berpotensi untuk bergerak di dalam rentang harga 108.85 – 109.25. Tren turun terlihat hanya dapat berlanjut jika USDJPY bia menembus 108.85. (Lukman Hqeem)