Bursa Saham Asia

Lebih dari satu dekade menjadi jurnalis ekonomi dan gaya hidup, khususnya pasar modal, komoditi dan mata uang. Menyukai travelling disaat liburan atau mengatur koleksi filateli.

ESANDAR, Jakarta – Bursa saham Asia berakhir dengan turun dalam perdagangan hari Kamis (14/03). Keyakinan pasar melemah setelah usulan kesepakatan Brexit dari Theresa May, ditolak kembali oleh Parlemen Inggris. Disisi lain, data ekonomi China pagi ini ternyata lebih buruk dari perkiraan pasar. Alhasil tekanan jual mendominasi perdagangan.

Pada hari Kamis, Biro Statistik Nasional China mengatakan output industri melambat lebih dari yang diharapkan pada Januari dan Februari, menunjukkan ekonomi China melambat. Output industri bernilai tambah di Cina naik 5,3% pada periode Januari-Februari dari tahun sebelumnya, dibandingkan dengan 5,7% tahun lalu dan proyeksi ekonom sebesar 5,5%. Ini merupakan laju pertumbuhan paling lambat dalam 17 tahun ini.

Tak pelak, bursa Shanghai dan Shenzhen turun mendorong kejatuhan bursa saham di Hong Kong, Jepang dan Korea Selatan. Indeks MSCI dari saham Asia Pasifik di luar Jepang turun 0,2 % setelah perdagangan berlangsung secara hati-hati sepanjang hari. Indek  Nikkei Jepang menyerah dari kenaikan di awal perdagangan dengan berakhir hampir datar.

Sejumlah saham menjadi perhatian pasar, diantaranya adalah SoftBank yang melonjak di perdagangan Tokyo setelah sebuah laporan bahwa itu mungkin memimpin investasi $ 1 miliar di unit mobil self-driving Uber Technologies. Perusahaan E-commers Rakuten dan Kobe Steel juga naik. Produsen minyak CNOOC naik di Hong Kong, sementara pemasok Apple, AAC dan Sunny Optical tenggelam. LG Electronics naik di Korea Selatan sementara Hyundai Motor jatuh.

Meskipun pertumbuhan China melambat, pasar Asia telah mengalami reli yang mengesankan tahun ini, dengan indeks MSCI naik sekitar 10 persen sebagian besar setelah Federal Reserve AS mengabaikan rencana kenaikan suku bunganya. Namun, kenaikan saham sejauh ini masih dibayangi melambatnya pertumbuhan ekonomi global, pendapatan perusahaan yang lemah, dan ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat dan Cina sangat bergantung pada aset berisiko. Pasar berdiri dalam kerapuhan, perlu sejumlah data makro yang lebih kuat untuk mengangkat tren pendapatan yang lebih baik, dan dapat mengkonfirmasi hasil yang lebih baik.

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa AS mungkin akan meninggalkan pembicaraan perdagangan dengan China. Trump berbicara tentang China pada hari Rabu di Washington, dan mengatakan bahwa meskipun dia optimis kesepakatan akan tercapai, namun dia dapat pergi begitu saja jika persyaratannya tidak sesuai dengan keinginannya. “Kami membuat kesepakatan hebat, atau kami tidak akan membuatnya sama sekali. Kami akan pergi (dengan) tarif, “kata Trump. (Lukman Hqeem)